Lainnya

    Kasus Pembunuhan di Maros Terulang Lagi

    Opini – reaksipress.com – Kasus pembunuhan di Kabupaten Maros terus berulang, masih segar dalam ingatan kita sepuluh tahun lalu (2011) seorang Anggota Polres Maros bernama Aiptu Rahman, tewas setelah diserang menggunakan senjata tajam oleh 4 warga Cenrana.

    Keempat pelaku, merupakan warga Desa Laiya Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros, yang dipimpin Ambo Aha, seorang pemimpin aliran sesat dengan ciri pakaian loreng bak tentara. Aliran sesat ini menilai sholat lima waktu adalah tidak wajib.

    Ketika Aha dan kawan sealirannya ke Kota Maros menemui beberapa pejabat, di pinggang mereka terselip parang dan badik. Mereka tidak dicegat saat menemui pejabat sambil membawa sajam. Sebab sajam dan bambu kuning merupakan bagian dari identitas warga pagan mereka.

    Usai pulang dari Kantor DPRD Maros, Aha berhenti di depan kantor Balai Penelitian Air Payau. Sebab ada demo di sana. Petugas yang melihat Aha dan anggotanya sepertinya ingin turut demo. Kemudian mencegat apa lagi nampak jelas mereka telah memawa sajam.

    Keributan antara Aha dan petugas akhirnya tidak terhindarkan yang mengakibatkan Aiptu Abd. Rahim Anggota Polres Turikale, tewas usai di serang dengan badik. Usai menikam Aha menutup jalan poros Maros-Bone bersama tiga kawannya.

    Penulis ada di TKP saat Aha begitu kesetanan menenteng sajam terhunus di tangan satunya menggenggam bambu kuning yang diyakini mereka sebagai jimat. Tak ada kendaraan yang boleh melintas. Suasana begitu mencekam. Polisi dengan senjata laras panjang terus bersiap-siaga.

    Pasukan TNI dari Kodim 422 Maros turut serta dengan senjata laras panjang. Aha dibujuk menyerah oleh Polisi dan tokoh masyarakat tak bergeming. Hingga akhirnya Kapolres Maros sat itu, AKBP. Ferdinan Pasaribu memerintahkan untuk melumpuhkan Aha bersama komplotannya.

    Penulis melihat lansung bagaimana peluru menumbus paha, pelipis dan badan Aha. Ia tewas su’ul khatimah di tengah jalan. Sementara tiga kawannya diringkus dan salah satu dari mereka sempat penulis bina di Lapas Maros.

    Kejadian Terulang, Pelaku Berbeda.

    Tiba-tiba di whatapps penulis, masuk sebuah pesan. Teman yang sama-sama pernah berjuang di yayasan penulis mengirimkan berita pembunuhan yang dilakukan oleh seorang oknum anggota Pemadam Kebakaran Maros di Dusun Dojong, Desa Gattareng Matinggi, Kecamatan Mallawa.

    Awalnya penulis berasumsi bahwa pemicu pembunuhan itu berkaitan minuman keras. Sebab wilayah Mallawa kerap terjadi kasus pembunuhan. Terakhir kejadian yang mengemparkan adalah pembunuhan Arifin yang tewas dikeroyok oleh beberapa orang, yang sebelum melakukan aksinya terlebih dahulu menenggak minuman keras.

    Diberita itu dinarasikan, Asdar yang merupakan Personil Damkar yang ditugaskan di Kecamatan Cenrana sedang berada di Mallawa. Pada saat kejadian Ia berjalan kaki sambil membawa parang dengan raut seperti kesetanan,

    Salah seorang warga bernama Sudirman kemudian menegur Asdar namun tidak diterima baik oleh pelaku dan langsung menyerang korban dengan Parang hingga tewas di RSUD Salewangan,

    Usai mengamuk, Pelaku kemudian melarikan kearah jalan poros dan menyerang pengendara motor bernama Sumardi yang melintas. Asdar akhirnya tewas ditangan warga yang hendak mengamankannya

    Kapolsek Mallawa Iptu Makmur membenarkan kejadian tersebut dan meminta warga menahan diri masing-masing dan menyerahkan kejadian ini ke aparat hukum.

    Kasus Pembunuhan Menjadi PR Bupati Terpilih.

    Tidak hanya Polisi, tapi pemerintah daerah terutama Bupati dan Wakil Bupati terpilih, H. A.S. Chaidir Syam-Hj. Suhartina Bohari yang akan dilantik pada Februari 2021, harus memiliki program untuk mencegah kasus pembunuhan terulang kembali di Kabupaten Maros.

    Menurut pengamatan penulis, ada beberapa hal yang menjadi pemicu terjadinya kasus pembunuhan di Kabupaten Maros yakni ;

    1. Pertikaian sepele, namun salah satu dari keduanya telah minum miras. Lalu mereka saling tikam. Seperti kasus yang terjadi pada tanggal 20 Oktober 2019 di Desa Sawaru Kecamatan Camba.

    2. Hukuman bagi pembunuh yang cara disengaja di Indonesia masih ringan. Bisa dibayangkan seorang mantan napi resdivis sampai 2 dua kali membunuh. Lalu ketiga kalinya ingin membunuh ia apes dan tewas ditangan orang tua renta bernama Salama. Inilah yang terjadi pada Rasulung, Ramadhan tahun 2018. Ia sudah minum miras lalu kembali ingin membunuh. TKP nya di Desa Mario Camba.

    Bagitu lemahnya hukuman bagi pelaku pembunuh hingga resedivis bernama Batei 3 kali membunuh. Ia bunuh mertuanya kasus ketiganya. Semoga Batei sudah bertobat dari dosa membunuh. Sebab analisa penulis ada semacam rasa bangga bagi pelaku pembunuhan jika sudah membunuh lagi. Ini analisa penulis sebagi pembina di Lapas dan Rutan

    1. Konplik tanah, kasus seperti ini harus diatensi semua aparat yang terkait. Sebab kerap terjadi saling bunuh dari konflik agraria, seperti yang pernah terjadi di Desa Garangtiga Kecamata Simbang.

    2. Ilmu setan atau ilmu mistik. Ilmu seperti ini memicu pembunuhan sebab pelaku pencari ilmu mistik kebal, kerap ingin membuktika ilmu kebalnya. Lalu ia merasa jumawa lalu menantang siapa saja, entah itu aparat Polri atau TNI apalagi orang awam.
      Mereka menyombongkan diri dari ilmu kebal yang haram dimiliki bagi seorang muslim. Sebab kekebalan itu diraih karena sosok setan, dalam hal ini jin yang berada di dalam tubuhnya.

    Jika dibenarkan dalam Islam ilmu kebal, maka tidak rompal gigi seri Rasulullah saat perang uhud. Juga tak mati ditikam Umar bin Khattab saat mempin shalat subuh. Serta tak wafat Ali bin Abi Thalib ditusuk pedang oleh khawarij Ibnu Muljam.

    1. Perjudian. Informasi yang pernah penulis dapat, bahwa pembunuhan Arifin di Desa Batu Putih Mallawa pada Desember 2017 pemicunya adalah judi. Arfin diyakini memiliki banyak uang oleh teman judinya. Hingga sekolompok orang yang juga temannya sendiri, usai minum miras hendak merampoknya. Lalu terjadilah pembunuhan.

    PERISTIWA PEMBUNUHAN AKAN SELALU TERULANG JIKA TIDAK ADA UPAYA MENCEGAHNYA

    Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika/DASI (Da’i Siber Indonesia) BY: Hamka Mahmud Seri 623 HP: 081285693559

    Silahkan Berikan Tanggapan Anda

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Polda Sulsel Kawal Kedatangan Vaksin Sinovac

    Maros - reaksipress.com - Polda Sulsel mengerahkan sedikitnya 410 personel untuk menjamin keamanan dan kelancaran pengawalan vaksin COVID-19 buatan Sinovac yang tiba di Terminal...

    Mulai Besok, Maros Terapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

    Maros – reaksipress.com - Bupati Maros, H.M. Hatta Rahman, M.M., mengeluarkan surat edaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Kamis (21/01/2021). Langkah ini diambil setelah...

    Diajak Jadi Dosen di Permata Ilmu

    Opini - reaksipress.com - Karunia pertama penulis terima setelah diwisuda S2 manajemen ilmu pendidikan. Yakni diajak jadi Dosen di ITKPI Maros (Institut Tehnologi...

    BNPB Salurkan Bantuan Untuk Korban Gempa Sulbar

    Sulbar - reakspress.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia menyerahkan bantuan operasional kebutuhan pokok penanganan gempa bumi Sulawesi Barat sebanyak Empat Miliar...

    KPUD Tetapkan Bupati Maros Terpilih

    Maros - reaksipress.com - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) akan menetapkan Bupati dan Wakil Bupati terpilih Kabupaten Maros, periode 2021-2024. Rencananya rapat pleno penetapan tersebut...

    Aliansi Siaga Bencana Maros Kerahkan Relawan ke Sulbar

    Maros - reakspress.com - Aliansi Masyarakat Tanggap Bencana (Siaga) Kabupaten Maros, memberangkatkan sejumlah relawan ke Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (17/01/2021) Pemberangkatan relawan Siaga Maros dilakukan...