Lainnya

    Tragedi Punahnya Bahasa Daerah di Rumah Sendiri

    Hari Bahasa Ibu yang diperingati penduduk dunia tiap 21 Februari 2019 seolah menyadarkan bangsa Indonesia, tentang pentingnya menjaga eksistensi bahasa daerah. Bukanlah pekerjaan yang mudah, memelihara dan melestarikan ribuan bahasa daerah yang tersebar di pelosok-pelosok tanah air.

    Bahkan Badan Bahasa telah memetakan, ada ratusan bahasa daerah yang belum didata dan dipetakan. Dari jumlah tersebut, baru ada 52 bahasa yang telah dipetakan, dan di antaranya dalam kondisi kritis dan terancam punah.

    Ganjar Hwia, kepala Bidang Perlindungan Badan Bahasa kepada Liputan6.com pernah menuturkan, dari data BPS 2011, hampir 80 persen penduduk Indonesia masih menggunakan bahasa daerah di rumahnya.

    “Ini suatu tragedi kalau sebuah bahasa daerah punah di rumahnya sendiri,” ungkap Ganjar.

    Ganjar juga menyayangkan sikap orang Indonesia yang tidak menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama. 

    “Kalau di daerah berbahasa Inggris dan lingkungan keluarganya berbahasa Inggris ya gak masalah, tetapi kalau konteks di Indonesia ya salah kaprah,” ungkap Ganjar.

    Menurutnya, sikap bahasa adalah persepsi bahasa. Dirinya  meyakini rasa kebangsaan orang Indonesia rendah kalau bahasa daerahnya punah.

    “Kita punya moto, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,” kata Ganjar menambahkan.

    Badan Bahasa sendiri tiap tahun menyelenggarakan Festival Bahasa Ibu yang diramaikan dengan berbagai acara, mulai dari seminar bahasa daerah hingga lomba bercerita menggunakan bahasa ibu. Hal ini demi menjaga kelestarian bahasa ibu dan memperkuat kedudukan bahasa daerah sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. 


    Penyebab Punah

    Berdasarkan data ethnologue (2015), terdapat 719 bahasa daerah di Indonesia. Dari jumlah itu, tercatat 13 bahasa sudah punah dan 706 bahasa masih hidup. Namun, yang perlu diperhatikan, dari 706 bahasa yang hidup itu, ada 341 bahasa daerah memerlukan perhatian khusus, dengan rincian 266 bahasa daerah berstatus lemah dan 75 bahasa berstatus sekarat.

    Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar menyebutkan, setidaknya ada beberapa penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, penyusutan jumlah penutur yang di antaranya karena kematian. Misalnya, perang yang menyebabkan suku tertentu kehilangan anggotanya dalam jumlah banyak, sehingga pengguna bahasa di komunitasnya berkurang.

    “Kemudian, bencana alam yang besar, yang menewaskan banyak penutur bahasa tertentu,” kata dia. “Yang ketiga, kami melihat kawin campur pun bisa memberikan sumbangan terhadap pengurangan bahasa daerah. Sebetulnya harapan kita dari Badan Bahasa kawin campur justru akan menambah penguasaan anak-anaknya, masyarakat, terhadap bahasa daerahnya. Tapi ternyata (malah) berkurang,” ujar Dadang.

    Dadang mencontohkan, orang Jawa menikah dengan orang Minang, tapi keturunannya hanya menguasai salah satu bahasa kedua orangtua, atau bahkan tidak sama sekali menguasai bahasa Jawa dan Minang. Faktor keempat adalah letak geografis. Ini terjadi pada daerah-daerah yang letak geografisnya dianggap kurang menguntungkan dari sisi pemertahanan bahasa. Misalnya, wilayah-wilayah pesisir pantai dan tempat bertemunya berbagai suku bangsa.

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer