Lainnya

    Sekolah Kolong : Menjaga Pendar Cahaya Asa

    Artikel – reaksipress.com – Semburat merah menjadi isyarat bagi pagi mereka, dan menggegas langkah lugu menuju sekolah yang bagi kebanyakan orang merasa aneh karena terletak di bawah rumah panggung salah satu warga – secara sederhana kami membahasakannya sebagai sekolah kolong –

    Sekolah kolong yang terletak di Dusun Tanete Bulu seperti merampas makna sila ke-5 Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah seperti hilang dan abai di sana.

    Padahal pendidikan adalah hal pundamental bagi sejarah panjang seorang anak bangsa. Pendidikan adalah solusi dari persoalan-persoalan bangsa yang pelik.

    Namun, cerita sekolah kolong di Dusun Tanete Bulu, Desa Bara-baraya, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, membuat miris dan mengundang keprihatinan. Bagaimana di tanah gemah ripah loh jenawi masih ada anak bangsa yang bersekolah dengan pakaian alakadarnya dan sarana yang minim.

    Tentu ini menjadi PR penting bagi pemerintah, khususnya pemerintah daerah Maros sebagai pokok pelaku pembangunan adil dan merata.

    Selain persoalan sarana dan prasarana, kekurangan guru pengajar juga menjadi masalah turun temurun bagi sekolah terpencil, sehingga implementasi, Permendikbud untuk merotasi guru agar mau mengajar di setiap pelosok terpencil adalah keharusan.

    Kebijakan mendistribusi guru sesuai dengan Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menyatakan semua ASN harus siap dirotasi secara periodik dan boleh menetap di suatu tempat dalam jangka waktu lama, perlu diterapkan tanpa tebang pilih.

    Menengok sekolah kolong seperti melihat gambaran nyata dalam film ‘Matahari dari Timur’. Film yang memperlihatkan bagaimana anak-anak Papua yang tinggal diatas gunung harus pasrah bersekolah dengan apa yang ada,

    Setidaknya ada usaha untuk tetap menjaga cahaya asa. Bagi Daeng Raga, merelakan kolom rumahnya, sebagai sekolah adalah caranya untuk memberi sumbangsih terhadap pendidikan generasi. Menurutnya, selalu ada harapan untuk setiap usaha yang sungguh-sungguh dan cukup dirinya yang buta aksara.

    Artikel : Guntur Rafsanjani
    Editor : MR

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer