Lainnya

    Sekelumit Perjalanan Hidup Andi Pangerang Petta Rani

    Artikel – reaksipress.com – Andi Pangerang Petta Rani lahir di Desa Mangasa Kabupaten Gowa tanggal 14 Mei 1903 ayahnya bernama Andi Mappanyukki Datu Silaja / Datu Suppa (Raja Bone) dan ibunya I Batasai Daeng Taco putri Gallarrang Tombolo anggota Bate Salapang.

    Ia kemudian masuk Sekolah Bumi Putra Tweede Klasse Inlandse School pada tahun 1913 Usia 10 tahun di Jongaya, dan tamat tahun 1919.
    Dari tahun 1919 sampai 1925 belajar pada sekolah Pamong Praja Opleiding School Boor Inlands Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.

    Setelah tamat di OSVIA berturut-turut bertugas ;
    1. Menjadi Pamong Praja di Palopo, Bone, Takalar serta
    2. Kepala Distrik / Karaeng Bontonompo 1925 s/d 1929.
    3. Sekretaris Pribadi Raja Bone 1931 s/d 31-7-1939
    4. Sekretaris Pemerintah Swapraja Bone 1-8-1939 s/d 1-3-1942.
    5. Anggota Pemerintah Swapraja Bone dengan gelar Arung Macege 1-3-1942 s/d 1-8-1943.
    6. Sebagai Arung Macege merangkap Kontelir Pamong Praja/Kepala Kewedanaann Bone meliputi Soppeng dan Wajo 1-8-45 s/d 1-3-1946.
    7. Mengundurkan diri sebagai Anggota Pemerintah Swapraja Bone (Arung Macege) karena tidak bersedia bekerja sama dengan Belanda dan kembali ke Jongaya memimpin P.N.I. Gowa. Maret 1946.
    8. Dalam Penjara karena menantang Pemerintah Belanda (N.I.T) 8-11-1946 s/d 17-11-1949.Di Penjara Belanda sekarang penjara militer jln Rajawali
    9. Kembali ke Bone sebagai Kepala Daerah Bone 15-5-1950 s/d 1 Maret 1955.
    10. Diangkat menjadi Residen Koordinator Sulawesi Selatan 1 Maret 1955 s/d 1 Juni 1956.
    11. Diangkat Menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi 1 Juni 1956.
    12. Diangkat sebagai Gubernur Militer dengan Pangkat Kolonel Tituler, Ketua Penguasa Perang Daerah Sulawesi Selatan/Tenggara 1 Mei 1957 s/d 19 Agustus 1958.
    13. Kembali Menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi 19 Agustus 1958.
    Diangkat Menjadi Anggota Pertimbangan Agung Sementara RI Juni 1959.
    14. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Tahun 1960

    Pada tangggal 08 Agustus 1945,sebelum Jepang menyerah kepada sekutu, Andi Pangerang Petta Rani, DR. Ratulangi, Andi Sultan Daeng Raja, dan Mr. Andi Zainal Abidin Farid berangkat dengan pesawat pembon Jepang ke Jakarta lewat Surabaya.

    Di Surabaya Andi Pangerang Petta Rani dan kawan-kawan mengumpulkan orang-orang Sulawesi yang bermukim di Surabaya di rumah Haji Abdul Karim La Baba, seorang pengusaha yang berasal dari Enrekang untuk menjelaskan akan diumumkannya Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan pesawat terbang Jepang dan mendarat di Kemayoran. Beliau beserta kawan-kawan disambut oleh Mr. Maramis.

    Tanggal 16 Agustus barulah diadakan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dilangsungkan setelah Bung Karno dan Bung Hatta Kembali dari tempat penculikan oleh pemuda di Rengasdengklok.

    Rapat dilangsungkan di rumah Laksamana Maeda dan diputuskan bahwa Kemerdekaan Indonesia akan diumumkan keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56. Beliau ikut merumuskan Undang-Undang Dasar 1945.

    Setelah Presiden Soekarno mengumumkan wilayah Republik Indonesia berada dalam keadaan darurat perang. Tanggal 14 Maret 1956, Andi Pangerang Petta Rani diangkat menjadi Gubernur untuk wilayah Sulawesi, dan Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara 1 Mei 1957.

    Ia juga merangkap sebagai penguasa Militer berpangkat Kolonel Tit. Beliau juga sangat bijaksana mengatasi kekecauan yang timbul akibat dicetuskannya Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA) pada tanggal 1 Maret 1957.

    Selain itu, Ia digelar sebagai Bapak Pendidikan karena pada masa Andi Pangerang Petta Rani menjabat Gubernur berhasil mendirikan sekolah-sekolah, Guru didatangkan dari jawa karena kesulitan kekurangan guru-guru, Guru-guru tersebut diberi berbagai fasilitas seperti perumahan, atau asrama dan kebutuhan lainnya, memperakarsai berdirinya Yayasan Latimojong untuk membantu para pelajar atau mahasiswa Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di Pulau Jawa.

    Universitas Hasanuddin berkembang atas bantuan Andi Pangerang dan memperakarsai berdirinya Fakultas Hukum di Unhas, atas jasa beliau namanya diabadikan sebagai nama Baruga Andi Pangerang Petta Rani,

    pendirian IKIP (UNM) dan IAIN (UIN) juga berkat campur tangan Andi Pangerang, rumah sakit, dan poliklinik, sarana olah raga di Sulawesi walaupun dana pembangunan pada masa itu belum banyak tersedia seperti halnya pada masa orde baru, Selain itu, yang menonjol adalah pelaksanaan Operasi Gerakan Makmur pada tahun 1959.

    Gerakan ini adalah Gerakan penghijauan yang terbesar yang pernah dilakukan di Sulawesi. Ketegasan bahwa Andi Pangerang Petta Rani adalah benar-benar seorang pemimpin yang menempatkan kepentingan negara diatas kepentingan keluarganya.

    Beliau juga sangat aktif dalam perjuangan Partai Kedaulatan Rakyat Bersama dengan Roundonuwu, Lanto Daeng Pasewang, dan Andi Burhanuddin dalam menghapuskan Negara Indonesia Timur. Dan sebagai anggota PPKI beliau juga ditunjuk Bersama DR. Ratulangi oleh Bung Hatta dan Bung Syahrir untuk menghadiri Proklamsi bersama sebelum kembali ke Makassar

    Setelah Pensiun januari 1960, Beliau masih melakukan berbagai kegiatan sosial dan tugas-tugas antara lain, Menjadi anggota DPA, anggota MPR, menjadi wakil ketua penyantun di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, Ketua Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan danTenggara, Pimpinan KORHAS, LVRI, dan Penasehat pimpinan tertinggi pemerintahan sipil dan militer di daerah Sulawesi Selatan, pimpinan perusahaan pelayaran PT.PPSS dan PT. Bone Lloyd.

    Andi Pangerang Petta Rani adalah bangsawan dalam tingkah laku dan perbuatan, tokoh panutan yang sangat jujur dan tegas tetapi penyayang rakyat, Beliau wafat pada tahun 1975 dan di makamkan dengan upacara militer di Taman makam Pahlawan Panaikang.
    Tanda Kerhormatan / Bintang Jasa ;

    1. Piagam Tanda Kehormatan Satya Lantjana Kebudayaan dari Presiden RI Soeharto 17 Desember 1971
    2. Piagam Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Pratama dari Presiden RI Soeharto 27 Januari 1976
    3. Piagam Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI Soeharto 12 Agustus 1992
    4. Piagam Tanda Kehormatan Satya lantjana Peringatan Perdjuangan Kemerdekaaan dari Presiden / Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Menteri Pertama Djuanda 14 Agustus 1962
    5. Piagam Tanda Kehormatan Bintang Bahayangkara Tingkat III dari Presiden RI Soeharto 12 Desember 1970
    6. Piagam Tanda Kehormatan Satya Lantjana Karya Satya Tingkat II dari An. Presiden / Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata RI Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena 17 Agustus 1964
    7. Piagam Penghargaan Legium Veteran Republik Indonesia dari Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI Letnan Jenderal Achmad Thahir 2 Januari 1982
    8. Piagam Tanda Pehormatan Setya Lantjana Keamanan dari Wakil Menteri Pertama / Menhakam Kepala Staf Angkatan Bersenjata Djenderal A.H.Nasution 15 Agustus 1962
    9. Piagam Tanda Kehormatan Bintang Legium Veteran Republik Indonesia dari Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI Letnan Jenderal Achmad Thahir 26 Nopember 1991
    10. Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI dari Menhamkam Pangab (Wapangab) Laksamana Sudomo 30 Oktober 1981
    11. Piagam Tanda Penghargaan Satya Lantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu dari Menteri Pertahanan Djuanda 5 Oktober 1958
    12. Piagam Tanda Penghargaan Satya Lantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan kedua dari Menteri Pertahanan Djuanda 5 Oktober 1959
    13. Penghargaan Kepala Staf Angkatan Darat dari Letnan Djenderal A.H. Nasution 20 April 1960
    14. Tanda Djasa Pahlawan dari Presiden Republik Indonesia Soekarno 10 Nopember 1958
    15. Piagam Anggota Dewan Kehormatan Kodam Hasanuddin Mayjen Hasan Slamet 20 Januari 1975
    16. Piagam Penghargaan dari Gubernur KDH Propinsi Sulawesi Selatan A.A.Rivai 17 September 1966
    17. Utjapan Terima Kasih Gubernur KDH Propinsi Sulawesi Selatan Achmad Lamo 27 September 1971
    18. Piagam Tanda Penghargaan dan Mengangkat Sebagai Warga Tauladan Prop. Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dari Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Selatan Achmad Lamo 15 Agustus 1975
    19. Piagam Arsip Nasional RI kepala Arsip Nasional DR. Noerhadi Magetsari 6 Nopember 1996
    20. Piagam Penghargaan Jasa-Jasanya dalam proses berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dari Rektor UNHAS Prof.Dr.H. Basri Hasanuddin, MA 13 Pebruari 1992
    21. Piagam Penghargaan Kota Madya Ujung Pandang “Ucapan Terima Kasih” dari WaliKota Madya Ujung Pandang H.M. Daeng Patompo 1 April 1974.

    (Tulisan diambil dari berbagai sumber)
    Editor : MR

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    BMH Bantu Operasi Apendiks Da’i Pedalaman Sumatera Utara

    Nasional - reaksipress.com - Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus bergerak menebar manfaat dan kepeduliaan kepada masyarakat luas yang membutuhkan. Terlebih kepada para dai yang...

    GP Ansor dan Pemateri Kamtibmas

    Opini - reaksipress.com - Selain pemateri dari TNI, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) I GP Ansor Maros juga diisi dari Polri yang dilaksanakan di Pondok...

    Duta Maros Tingkat Nasional Butuh Perhatian Pemerintah Daerah

    Maros - reaksipress.com - Jelang perhelatan ajang Pemilihan Duta Kampus Tingkat Nasional tahun 2021 yang akan digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta, Mutmainnah, mantan Ketua...

    Karang Taruna Maros Bakal Gelar TKD

    Maros - reaksipress.com - Karang Taruna Kabupaten Maros akan menggelar Temu Karya Daerah (TKD) di Villa Iluna, Tompobulu pada Sabtu (20/02/2021). Kegiatan yang akan dihelat...

    Bersama Hidayatullah Langkat, BMH Gelar Syukuran Penggunaan Perdana Masjid Al-Fatah

    Nasional - reaksipress.com - Pondok Pesantren Hidayatullah bersama BMH menggelar kegiatan silaturrahim tokoh dan syukuran pemanfaatan perdana Masjid Al-Fatah, Ahad (21/2) di Desa Pekan...

    Terima Kasih Bupati dan Wakil Bupati Maros

    Opini - reaksipress.com - Tepat hari Rabu, 17 Februari 2021 Bupati Maros, Ir. H. Hatta Rahman, MM dan Wakilnya Drs. H. Harmil Mattotorang, M.M...