Lainnya

    Pluralisme Dan Kekuatan Perbedaan

    Artikel.Sosial – Reaksipress.com – Hanya ada satu persaudaraan, persaudaraan manusia yang menyatukan anak-anak bumi “dalam diri” Tuhan. -Inayat Khan

    Alam semesta, termasuk antaranya; manusia yang berasal dari ledakan paling besar, yaitu ledakan primodial yang sangat luar biasa dari cahaya dan pada akhirnya terkristal dalam wujud materi.

    Menurut pandangan Imam Al-Ghazali dalam bukunya Perspektif Sufistik menjelaskan bahwa, “Hidup yang memancar dari wujud batin dimanifestasikan ke permukaan dalam bentuk beragam dan dalam dunia ini manusia adalah manifestasi yang terbaik.”

    Karena dalam evolusinya, manusia dapat merealisasikan kesatuan wujud ini. Bahkan, dalam keragaman eksistensi eksternalnya, sekalipun.

    Untuk mencapai tujuan keberhasilan sebagaimana manusia, ini merupakan satu-satunya arah kedatangan manusia di dunia mencapai segala hal melalui penyatuan dirinya dengan orang lain. Oleh karena itu, kesatuan universal manusia, terpraksis sebagai bentuk pembebasan diri dari batas-batas kebangsaan, rasial, dan bahkan agama.

    Menyatukan diri dalam persaudaraan manusia yang bebas dari perbedaan status, kelas, keyakinan, ras, bangsa, atau agama, dan menyatukan manusia dalam persaudaraan universal.

    Persaudaraan universal tersebut di dasari oleh kesamaan primordial seluruh manusia, sebagai “bagian utama” dari “diri Tuhan”.

    Menurut Inayat Khan, persaudaraan bukanlah sesuatu yang bisa tuntas bila dipelajari dan diajarkan (secara konsepsional). Persaudaraan adalah suatu kecenderungan yang muncul dari hati, yang memikat dan mengikat jiwa-jiwa yang satu untuk kembali padu “dalam” Yang Satu.

    Pluralisme secara konseptual dan praksis merupakan cermin dari sebuah bentuk persaudaraan universal kemanusiaan.

    Perbedaan doktrin agama secara eksoterik (lahir) justru lebih dipahami sebagai jalan menuju kesamaan dan kesatuan hakikat kebenaran secara esoterik (batin, naluri, kemistri.).

    Pluralisme: Antara Claim of Truth dan Claim of Salvation

    Persoalan mendasar yang sering menuai kontroversi dalam diskursus pluralisme adalah persoalan klaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salvation).

    Claim of truth adalah pengakuan terhadap kebenaran lain yang diyakini oleh kelompok agama yang lain.

    Claim of truth pada titik ekstrem akan sampai pada pemahaman paralelisme yang menganggap kebenaran semua agama adalah sama.

    John Hick menyebut jenis pluralisme ini dengan istilah epistemological religious pluralism, yang secara sederhana berarti klaim kebenaran.

    Bahwa, pengikut agama-agama di dunia memiliki kedudukan yang sama menurut justifikasi religius mereka.

    Dengan kata lain, secara epistemologis, tidak ada satu pun agama yang paling berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal yang lebih dari yang lain serta menafikan kebenaran agama yang lain.

    Claim of salvation adalah pengakuan akan terbukanya pintu-pintu keselamatan eskatologis bagi penganut agama lain.

    Menurut Jalaluddin Rakhmat, definisi generik dari pluralisme ada pada claim of salvation, yaitu meyakini umat agama lain juga berhak untuk mendapatkan keselamatan eskatologis. Dalam istilah John Hick, claim of salvation disebut Pluralisme Soteriologis (Soteriological Religious Pluralism).

    Persoalan filosofis yang kemudian timbul adalah, apakah antara kedua klaim tersebut merupakan dua hal yang terpisah?

    Dalam artian, kita mengakui terbukanya pintu keselamatan bagi penganut agama lain di satu sisi, namun di sisi lain, kita menolak kebenaran ajaran agama tersebut.

    Ataukah, kedua klaim tersebut merupakan dua hal yang berjalin kekeliruan? Sehingga masing-masing meniscayakan yang lain.

    Secara ontologis, kebenaran bukanlah realitas yang dapat dipandang dengan kacamata hitam-putih (passing logic).

    Kebenaran, sebagaimana wujud dalam perspektif filsafat, merupakan realitas yang bergradasi sesuai tingkat intensitasnya.

    Demikian pula, kebenaran agama dan pemahaman agama masing-masing memiliki perbedaan intensitas kebenaran. Tergantung pada kualitas intelektual-spiritual ajaran dan penganut ajaran tersebut. Secara rasional, kita menerima kenyataan akan adanya pluralitas agama dan berbagai tawaran jalan keselamatan eskatologis, di mana masing-masing jalan tersebut semuanya membuka peluang bagi manusia untuk sampai pada keselamatan.

    Hanya saja, keselamatan eskatologis bukanlah titian akhir ideal bagi manusia sebagai makhluk pendamba kesempurnaan.

    Untuk itu, pencarian kebenaran dengan sikap yang terbuka dan objektif, merupakan keniscayaan bagi manusia dalam rangka mencapai tahapan demi tahapan yang akan mengantarkannya pada kesempurnaan perjalanan.

    Pluralisme meniscayakan sikap tulus menerima pluralitas sebagai hal positif dan merupakan rahmat Tuhan kepada manusia, karena akan memperkaya pertumbuhan budaya melalui interaksi dinamis dan pertukaran silang budaya yang beraneka ragam.

    Mengutip istilah Nurcholis Madjid (Cak Nur), pluralisme harus dipahami sebagai kebhinekan dalam ikatan-ikatan keadaban. Bahkan, pluralisme merupakan sebuah keharusan bagi keselamatan umat manusia.

    Juga mengutip perkataan Muhammad Fathi Osman, secara praksis, pluralisme adalah bentuk kelembagaan, di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu, atau dunia secara keseluruhan. Makna pluralisme tidak sekadar toleransi moral atau konsekuensi pasif.

    Selain kesimpulan diatas, kita sudah menarik sudut pandang baru tentang, Pluralisme yang terbangun, juga akan mengantarkan manusia untuk menghargai persamaan nilai-nilai universal dari semua agama.

    Konstruktif, dalam artian pluralisme yang terbangun, akan membentuk sistem-sistem sosial yang akan mengarahkan manusia pada sebuah kemajuan peradaban manusia yang humanis dan damai.

    Penulis : Guntur Rafsanjani (Finalis Dara & Daeng Maros 2020)

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Gandeng UMKM, Layanan Polres Maros Akan Diantar ke Rumah

    Maros - reaksipress.com - Polres Maros dan UMKM jasa layanan kurir OM Maros menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di aula Mapolres Maros, Rabu (03/03/2021). Acara tersebut...

    Nakes di Pulau Terluar Sulawesi Selatan Telah di Vaksin

    Pangkep - reaksipress.com - Sejumlah tenaga kesehatan dan unsur kantor desa di pulau-pulau terpencil di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kembali mendapatkan dosis Vaksin jenis...

    Ini Program 100 Hari Bupati Maros Yang Baru

    Maros - reaksipress.com - Setelah resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Maros oleh Gubernur Sulsel, Chaidir Syam-Suhartina Bohari, kini fokus mempersiapkan program 100...

    Polres Maros Gelar Vaksin Covid-19 Tahap 2

    Maros - reaksipress.com - Sebanyak 50 personil Polres Maros mengikuti pencanangan vaksin Covid-19 tahap II yang digelar Polres Maros. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula...

    Tingkatkan Mutu Pelayanan, Polres Maros Resmikan Gedung Baru

    Maros - reaksipress.com - Berbagai upaya terus dilakukan Polres Maros untuk meningkatkan Kualitas layanan kepada masyarakat, salah satunya dengan membangun fasilitas penunjang pelayanan publik....

    Solusi Dusun Pemasok Miras

    Opini - reaksipress.com - Pipinya basah, matanya memerah terlihat hatinya pilu. Menyaksikan sekiar 5 karung mirasnya ditumpah oleh supir yang mengangkut atas ...