Lainnya

    Penjara Pram

    Tak didengar siapapun, tapi Pram tetap meluapkan emosinya dihadapan ke-zaliman dalam teks novel sejarah

    “….Minke dilucuti tanpa pakaian di dalam kamar, kemudian dijadikan sebagai bahan olok – olokkan. Minke tidak bisa mengendalikan amarahnya,  Ia meninju salah seorang seniornya hingga dua giginya rontok. Untuk menyadarkan bahwa tidak pantas seorang intelek berbuat semacam itu.

    Waktu berlalu dan Minke dengan penerbitannya, membuat Medan berubah  jadi harian berita, yang penuh berisi kritikan terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda.”

    Narasi Pramudya Ananta Toer seperti tak disangka-sangka-dengan sesak namun rapi membawa cerita hingga kepentas perjuangan terhadap kezaliman,  orang-orang lalu tersadar bahwa perjuangan telah menempati panggung yang tertata, meskipun latar belakang kekuatan narasi itu, lahir dari sesuatu yang datang dari sebuah pengalaman yang suram.

    Pram mengenakan jas Nehru abu-abu, rambutnya yang memutih dan gondrong tersibak ke belakang. Dalam umurnya yang lebih dari 70 tahun, ia tampak kuat, langsing, tegak. Suaranya besar dan mantap menghadapi hadirin.

    Pernahkah kita membayangkan ini? Mungkin kita akan mengatakan, sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman “Demokrasi Terpimpin” Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman “Orde Baru” ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun. Dan kini, tahun 1999, ia mendapatkan paspornya, ia seorang yang merdeka kembali, dan ia berangkat ke Amerika Serikat, sebuah negeri yang tak pernah dikunjunginya-dan ia disambut.

    Buku dengan Judul “Jejak Langkah”, merupakan narasi dari keadaan terpenjara, juga dengan tanpa harapan bahwa semua itu akan dibaca. Ia tak tahu apakah ia akan menang. Akalnya mengatakan kemenangan baginya mustahil. Tetapi ia tak hendak menyerah. Ia menulis novel sejarah ini. Tetapi, seperti dikatakannya kepada Mary Zurbuchen, ia ingin agar ada kesaksian bagi anak-anaknya-yang terpisah dari dirinya selama bertahun-tahun itu-bahwa “mereka pernah punya seorang ayah”.____ *Sangbaco

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Jelang Pra Muscab, 14 Pimpinan DPAC Solid Dukung Havid Fasha Kembali Pimpin PKB Maros

    Maros - reaksipress.com - Menjelang pelaksanaan Pra Musyawarah Cabang Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Maros, Pimpinan Kecamatan atau Ketua Tandfiz Dewan...

    DP Nikmati Akhir Pekan di Bantimurung Bareng Nasdem

    Maros, reaksipress.com - Setiap orang punya berbagai macam cara dan tempat untuk menikmati libur akhir pekan. Ada yang mengunjungi mall, pantai dan juga alam...

    Jalan Poros Barandasi Kembali Memakan Korban

    Maros - reaksipress.com - Pengerjaan jalan Poros Maros-Pangkep kembali memakan korban, dari pengakuan salah seorang warga, akibat kecelakaan tersebut ialah disebabkan oleh tidak adanya...

    Ini Program 100 Hari Bupati Maros Yang Baru

    Maros - reaksipress.com - Setelah resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Maros oleh Gubernur Sulsel, Chaidir Syam-Suhartina Bohari, kini fokus mempersiapkan program 100...

    Aklamasi, Agus BJ Pimpin Karang Taruna Maros

    Maros - reaksipress.com - Temu Karya Karang Taruna Kabupaten Maros yang digelar di Villa Iluna Kecamatan Tompobulu memilih secara aklamasi Agus BJ sebagai ketua...

    SPIDI Sukses Gelar AQSHA Kompetisi

    Maros - reaksipress.com - SPIDI resmi menggelar AQSHA Competition Volume 5. Kegiatan tersebut berlangsung secara virtual hingga 28 Februari mendatang. Disiarkan secara live streaming di...