Lainnya

    Pejuang Literasi yang Terabaikan

    Esai -reaksipress.com – Tidak banyak pemuda seperti Dia, ketika anak muda seumurannya bergelut dengan gadget dan game, Guntur Rafsanjani bersama beberapa kawannya justru menenggelamkan dirinya dalam dunia ‘asing’ di Indonesia (apalagi Maros) yaitu menjadi penggiat literasi. mereka saban hari menggelar matras dan tikar kemudian memenuhinya dengan pelbagai jenis buku, baik buku ilmu pengetahuan, buku anak, pemikiran, filsafsat, sastra, kemahiran hidup dan itu gratis.

    Apa yang mereka lakukan berangkat dari keprihatinan dari rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia. Dari data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 0,001%, ini berarti dari 1.000 penduduk hanya ada satu orang yang mmiliki minat baca.ini sebuah fakta mengerikan dan menyedihkan!

    Untuk merubah stigma buruk itulah, Ia dan beberapa kawannya yang memiliki rasa prihatin yang sama terhadap bangsa, kemudian mencari titik kumpul warga dan mulai menggoda masyarakat dengan buku. Di Kota Maros, Mereka kemudian melapak buku-buku di Hutan Kota Maros dan area car free day di depan Kantor Bupati Maros.

    Aktifitas literasi mereka gelar setiap sore dan Ahad pagi. Namun karena merebaknya Pandemi Covid-19 aktifitas itu terhenti sejenak sebagai bentuk kepatuhan terhadap instruksi pemerintah untuk #dirumahaja.

    “Kami kemudian menyiasati keadaan ini dengan melakukan diskusi via online dengan menggunakan salah satu aplikasi dan dalam diskusi ini kami kerap mengundang tokoh pemuda atau figur lokal sebagai pemantik, moderator ataupun pemateri. mereka kemudian secara bersama-sama mengurai dan ‘menelanjangi’ setiap persoalan yang menimpa bangsa dan Maros termasuk pandemi Covid-19.” terang Guntur.

    Guntur menjelaskan bahwa kegiatan membangun peradaban literasi di Maros mulai mereka lakukan sejak 2017 lalu dan bermula di salah satu warung kopi yang menjadi tempat kongkow-kongkow dan berdiskusi, membahas apa saja termasuk persolan literasi yang terabaikan di Kabupaten Maros pada saat itu.

    keprihatinan dan keresahan itu kemudian menjadi sebuah komunitas yang kemudian melahirkan gagasan-gagasan untuk menggiatkan kembali literasi di Butta Salewangang -dan mereka tau ini tidak mudah-

    “Kami berusaha tidak bersentuhan dengan hal berbau politik, bisnis atau kepentingan. Kami ingin tetap independen termasuk tidak ingin berkolaborasi dengan pemerintah daerah atau instansi yang kadang memiliki kepentingan sendiri. kita ingin membuktikan bahwa kami pemuda mampu berkarya dan membuka ruang sendiri meski tanpa diberi wadah dan fasilitas.” tegas Guntur.

    Fokus pemerintah daerah pada pembangunan infrastruktur dan abai terhadap upgrade sumber daya manusia menurut Guntur adalah kesalahan fatal dan perlu dikoreksi,
    “Memajukan pendidikan itu menjadi tanggungjawab bersama, sesuai amanat Undang- Undang Dasar 1945,” ujarnya.

    “Indeks pembangunan sumber daya manusia masih sangat rendah di Kabupaten Maros, ini menjadi sebuah tantangan buat kita sebagai generasi muda karena kalau mau mengandalkan pemerintah sepertinya jauh panggang dari api. Kita tidak akan bergerak,” lanjutnya.

    Sejak mengabdikan diri sebagai penggerak literasi, Ia bersama kawan-kawannya telah membagikan ribuan buku-buku yang dikumpulkan dari sumbangsih masyarakat, yang kemudian disortir kembali untuk disalurkan ke segala penjuru Kabupaten Maros. Termasuk membuka puluhan pustaka baca di pelosok yang masih sangat sulit dijangkau dan tidak mendapat perhatian pemerintah daerah.

    “Karena tidak hanya berliterasi di kota tapi kita juga berperan sebagai pemantik untuk membangun relasi ke siapa saja yang ingin bergabung dan sama-sama membesarkan nama Kabupeten Maros sebagai kota wajib literasi.” tuturnya penuh harap.

    Ada asa yang coba Ia bangun dalam keterbatasan ruang dan uang, namun Ia dan seperjuangannya tetap yakin bahwa usaha tidak akan menghianati hasil -nothing is done in vain-

    GUntur_

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer