Lainnya

    Kisah Sengaja Salah Terjemah

    Artikel, Religi – reaksipress.com – Ustadz Fadlan Garamatan, dai yang di juluki Ustadz Sabun Mandi. Pernah bercerita tentang dirinya sengaja menterjemahkan tidak sesuai apa yang diucapkan oleh si pembicara.

    Waktu itu tahun 90-an, usai beliau mengislamkan ribuan warga Papua pedalaman dengan metode dakwah hanya menggunakan sabun mandi. Hingga mereka tertarik, lalu kepala suku dan turut banyak warganya mengikrarkan dua kalimat syahadat. Buah dari kreatifitas dan inovasi dakwah Ustadz Fadlan.

    Sepak terjang dakwah, ustadz asal Fak-Fak yang pernah menjadi remaja Masjid Raya Makassar semasa kuliah di IAIN Alauddin tersebut. Didengar oleh Presiden Soeharto. Lalu di undang ke istana, dengan turut pula beserta kepala suku yang muallaf tersebut.

    Ketika sampai di Istana, Presiden menjamu mereka dan berbincang. Lalu mereka para kepala suku pedalaman Papua ditanya tentang bagaimana tanggapan penilaian mereka tentang pemerintahannya dan pembangunannya di Papua.

    Mereka menjawab dengan memaki dan ucapan tidak senang pada Presiden Soeaqqqqqharto kala itu. Ustadz Fadlan yang bertugas mendapingi dan juga penterjemah, kemudian mengartikan ucapan kepala suku kepada Presiden kala itu dengan sebaliknya.

    Ia menterjemahkan dengan memuji, bahwa kinerja pemerintahan bapak bagus sekali, merek sangat senang. Sebab Papua mulai semakin maju berkat Bapak Presiden. Apa yang terjadi? Presiden senang kala itu, lalu mereka semua juga termasuk Ustadz Fadlan di berangkatkan naik haji oleh Presidan Suharto waktu itu

    Lain lagi kisah tentang salah menterjemahkan, hingga menjadi sebab memicu perang dunia kedua. Diungkap oleh Prof. Karim Suryadi. Ia mengatakan saat di undang di ILC, “Dalam kajian ilmu komunikasi terungkap, bahwa akibat kesalahan penafsiran sebuah kata, itu dapat manimbulkan perang.Terdapat bukti yang otentik.” Ungkapnya,

    Diutarakan, “Konon perang dunia kedua, itu terjadi akibat kesalahan penafsiran kata mokutsatsu. Jadi ketika diultimatum oleh tentara sekutu. Tentara Jepan menjawab mokutsatsu. Karena dalam perang tidak ada kamus lengkap, akhirnya sekutu menafsirkan mokutsatsu dengan cara yang salah dan menganggap Jepan diam-diam akan melawan. Maka terjadilah perang dunia kedua.”

    Dalam mentermahkan buku berbeda dengan mentermahkan kalimat yang lansung diucapkan. Buku asing yang terjemahkan, terdap adab dan norma-norma penterjemah yang tidak boleh dilanggar, sebab karya orang yang ingin mereka alih bahasakan.

    Jika ada kata yang ingin disisipkan si penterjemah saat menterjemah buku, maka ia akan tulis dibagian footnote atau in note terkadang ia buatkan tempat keterangan sendiri tersebu dibagian buku. Bukan pada isi terjemahan kata lansung.

    Suatu contoh, ada seorang yang tidak sependapat dengan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziah ketika sang imam tersebut, menulis dikitabnya tentang pahala bacaan al-Qur’an, yang terdapat perbedaan pendapat ulama. Ada yang mengatakan sampai dan juga mengatakan tidak.

    Lalu, si penterjemah yang tidak sependapat tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an. Kemudian ia sisipkan pendapatnya pada buku yang diterjemahkan tersebut dengan memberikaan keterangan tersendiri. Tetapi, etika tetap ia pegang yaitu tidak mengubah karya orang lain dan tidak dengan sengaja menterjemahkan dengan keliru. Ia hanya memasukkan pemahamanya. Namun kasus seperti ini tidak banyak.

    Olehnya itu penulis sangat senang saat ini, kitab-kitab induk: klasik maupun moderen sudah banyak diterjemahkan. Kitab sembilan imam, Fathul Bari, Syarah Sahih Muslim, Tafsir Ibnu Katsir, At-Tabari, Fi zilalil Qur’an, Tafsir al-Munir Bulungul Maram, Riyadus Shalihin. Dan banyak lagi buku lainnya.

    Kalau kita terima dan suka baca al-Qur’an yang sudah dikasi tanda baca, (ََ ّ ُ ٌ ٍ ِْ ) begitu juga yang sudah diterjemah olah ahlinya. Waka wajar juga kita terima, buku-buku yang kitab gundul dulunya, telah berubah kerana diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

    Tujuanya, agar kita tidak dikotomis; memisahkan bahkan meremehkan buku-buku yang sudah dialih bahasakan ke bahasa ibu kita dengan buku yang belum. Pada hal buku terjemahan tersebut adalah karunia Allah swt dan kemudahan dalam tugas dakwah serta untuk menambah ilmu yang masih sangat luas terbentang di alam raya ini.

    BACALAH BUKU APA SAJA, SEBAB PERINTAH MEMBACA HAL YANG PALING PERTAMA DIANJURKAN OLEH ALLAH SWT PADA NABI SAW.

    Kajian Dai Kamtibmas
    BY: Hamka Mahmud
    081285693559

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Personil Polres Maros Siap di Vaksin

    Maros - reaksipress.com - Jajaran Kepolisian Resort Maros, menyatakan siap mensukseskan dan mengamankan pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan oleh pemerintah Pusat. Hal tersebut dibuktikan dengan...

    Milad Pertama KPA Baterfly Maros

    Maros - reaksipress.com - Bertempat di Hutan Jati Pattunuang, Komunitas Pecinta Alam(KPA) Butterfly mengadakan Milad pertama pada Sabtu malam (20/02/2021). Rencansnya, kegiatan...

    Terima Kasih Bupati dan Wakil Bupati Maros

    Opini - reaksipress.com - Tepat hari Rabu, 17 Februari 2021 Bupati Maros, Ir. H. Hatta Rahman, MM dan Wakilnya Drs. H. Harmil Mattotorang, M.M...

    Karang Taruna Maros Bakal Gelar TKD

    Maros - reaksipress.com - Karang Taruna Kabupaten Maros akan menggelar Temu Karya Daerah (TKD) di Villa Iluna, Tompobulu pada Sabtu (20/02/2021). Kegiatan yang akan dihelat...

    GP Ansor dan Pemateri Kamtibmas

    Opini - reaksipress.com - Selain pemateri dari TNI, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) I GP Ansor Maros juga diisi dari Polri yang dilaksanakan di Pondok...

    BMH Bantu Operasi Apendiks Da’i Pedalaman Sumatera Utara

    Nasional - reaksipress.com - Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus bergerak menebar manfaat dan kepeduliaan kepada masyarakat luas yang membutuhkan. Terlebih kepada para dai yang...