Lainnya

    Kisah Banjir Besar di Kota Maros


    Artikel, Religi – reaksipress.com – Tepat sebulan banjir besar melanda kota penulis yaitu Kabupaten Maros Sulawesi-Selatan. Seumur-umur penulis, yang tinggal di Kota Maros hampir berusia 40 tahun baru kali ini merasakan kota yang berjuluk Buttasalewang mengalami banjir setinggi itu.

    Olehnya itu, rasanya ada yang janggal hingga kini, ketika saya tidak menulis kejadian banjir tersebut. Disamping memang dalam Skep Kapolri No 786/X/ tahun 2005 Tentang Pedoman Pembentukan Dai Kamtibmas.

    Di salah satu babnya mengarahkan seluruh anggota Dai Kamtibmas untuk mebuat tulisan berupa: pamlet, artikel, poster atau semacamnya yang ada kaitannya dengan dakwah Dai Kamtibmas.

    Tujuannya menulis kejadian banjir yang sudah dua bulan berlalu tersebut: pertama, untuk terabadikan sejarah banjir melalui tulisan. Sebab penulis paling pertama merasakan sergapan banjir setinggi satu meter lebih, kerena rumah tepat berdampingan dengan sisi sungai maros yang meluap. Bahkan ada hingga dua meter seperti di lokasi tanah wakaf yang rencana di bangun Pusat Pendidikan Dai Kamtibmas.

    Juga artikel ini menjadi pelajaran bagi penjaga pintu bendungan bili-bili agar sebelum datangnya intensitas hujan yang tinggi. Supaya air yang mereka tampung hendaknya sedini mungkin dialirka segera. Sebab jika seperti kejadian pada tanggal 22 Januari 201 air ingin meluap hingga status waspada baru dibuka pintu bendungan maka kamilah semua masyarakat jadi korban.

    Kalimat diatas adalah saran dari M. Junadi manajer SPBU Buttatoa di Kabupaten Maros yang pemiliknya SPBU Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaeman. Sebab juga SPBU itu jadi korban. Ketika diucapkan saat wawancara penulis dengannya usai mengisi khutbah jumat di masjid Amar Maruf SPBU pasca banjir.

    Ia juga mengatakan, “Betul-betul banjir ini besar sekali,” sesalnya, “sebab barusan SPBU ini selama di bangun tergenang air banjir, terpaksa satu pekan tutup. Sebab air masuk ke tangki penampungan, tembok roboh dan pondasi turut terkena longsor. Masjid ini,” sambil menujuk bekas air, “tergenang juga. Wah luar biasa besar banjir baru-baru ini”

    Lalu penulis tanggapi, “Betul pak, rumah saya juga dan masjid Dai Kamtibmas juga disergap banjir.” Usai menanggapi komentarnya, kemudian penulis kisahkan pada beliau detik-detik awal datangnya banjir yang penulis alami.

    Jadi, pada selasa pagi, 22 Januari 2019 penulis sudah menprin out materi ceramah di Lapas tafsir ayat kamtibmas dengan tema, “Ubah Kerugian Menjadi Keuntungan” lanjutan dari kajian surah al-Asr. Lembaran itu untuk dibagikan kepada jamaah masjid Dakwatul Ikhsan.

    Hari itu rencana sudah shalat dhuhur berangkat ceramah. Sebab, penulis harus shalat ashar di Lapas kemudian lansung mengisi ceramah disana. Lalu hari itu niat berangkat ceramah ke Lapas Gunung Sari batal. Sebab, melihat pergerakan air begitu capat, hingga usai shalat dhuhur hampir masuk ke lantai masjid.

    Kerena waktu itu air sungai maros yang berjarak 50 meter dari rumah penulis mulai menyergap perlahan sejak mulai pagi. Sebab itu pula kendaraan dakwah yaitu mobil lawas merek suzuki minibus pabrikan tahun 90an penulis lebih dahulu ungsikan, begitupun motor ke tempat lebih tinggi. Di gudang kayu milik paman yang Kepala Lingkungan Kassi.

    Juga, karena di rumah ada tiga anak kecil: satu putri penulis cacat tuna daksa umurnya 9 tahun, adiknya perempuan 3 tahun, adiknya lagi laki-laki 9 bulan. Begitu melihat air sungai deras sekali meluap, maka mereka bertiga penulis putuskan ungsikan tiga ke neneknya yang tinggal di Ponpes Darul Istiqamah Maccoapa. Wilayah itu tidak terimbas banjir, kecuali sedikit bagian di belakang kompleks Ponpes itu.

    Sesudah shalat azhar gardu aliran listrik di padamkan PLN. Masjid Dai Kamtibmas biasanya pada waktu usai shalat magrib anak-anak diajar mengaji dan dilanjutakan shalat isya kedua aktifitas itu sudah tidak bisa dilaksanakan. Kerena air banjir sudah menggenangi lantai masjid.

    Beruntung perpustakaan masjid yang mengoleksi ribuan judul buku. Selamat, karena buku-buku lekas diunsikan ke tempat tinggi. Begitu juga karpet sumbangan Kapolda Sulsel Irjen Pol Dr. Anton Charliyan, MPKN saat peremian masjid tanggal 06-06-2016 juga selamat.

    Malam rabu, 22 Januari 2019, penulis terpakas tidur di dalam masjid dengan meminjam meja bambu tampat bertelur ayam peliharaan, milik tetanga. Hingga besoknya terus air naik. Ketika itu penulis posting di fecabook ayat al-Qur’an tentang firman Allah yang memerintahkan air banjir zaman Nabi Nuh surut.

    وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

    Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, ”Binasalah orang-orang zhalim.” Surat Hud, Ayat 44

    Usai mengutif ayat diatas lalu penulis kementari, “Ya Allah! Jadikanlah ayat ini berlaku juga di kota kami Buttasalewangan.” Lalu posting, ternyata banyak yang like, terutama warga maros.

    Pada malamnya, rabu, 23 Januari 19 alhamdulillah air surut tapat pukul 02 dini hari. Dan beruntung lampu sudah di nyalakan oleh PLN. Hingga dengan itu memudahkan masyarakat membersihkan lantai rumahnya dari jejak banjir yaitu lumpur yang setinggi mata kaki.

    Ternyata, banjir yang dialami warga maros sama dengan yang terjadi di zaman Nabi Nuh terutama usai air surut yaitu lumpur yang menggenang dimana-mana. Pada zaman Nabi Nuh juga demikian. Penulis baca dalam tafsir al-Munir penulis Syekh Wahda Zuhaili.

    Dijelaskan, bahwa ketika banjir surut Nabi Nuh menyuruh burung gagak yang juga naik di perahunya saat banjir bandang yang melebihi ketinggian gunung. Nah, ketika kapalnya berlabuh diatas bukit judi. Nabi Nuh memerintah burung gagak untuk mengecek air di kotanya apakah sudah surut.

    Maka pergilah burung jenis unggas yang paling pintar itu mengecek. Tidak lama kemudian datanglah burung gagak, Nabi Nuh melihat kaki burung gagak berlumuran lumpur. Lalu seketika Nabi Nuh berasumsi bahwa air sudah surut, sebab tandanya adalah lumpur menempel di kaki burung gagak.

    Begitu juga usai banjir di kota penulis. Tidak tanggung-tanggung Pemda Maros harus menggerakan mobil pemadam kebakaran untuk menyemprot lumpur yang menggenangi seluruh kantor-kantor termasuk kantor Bupati Maros.

    Kerugian usai banjir tak terhitung lagi. Untuk penulis mungkin tidak terlalu besar: sebab hanya mobil dakwah penulis yang tergenang air. Yang mungkin ongkosnya sekitar 1-2 juta, namun hingga hari ini belum sempat dibawa kebengkel.

    Tatapi ada orang yang mobilnya modern/matic juga terkena banjir ongkosnya lebih 10 juta. Apa lagi yang tidak ternilai yaitu korban jiwa yang ada lima orang di kota penulis.

    Sementara masjid Dai Kamtibmas kerugiannya setelah banjir surut yaitu lantai masjid ambelas hingga 30 cm. Karena tanah timbunan dibawah lantai tehel mengalami penyusutan akibat dari genangan air banjir.

    Namun, hingga artikel ini ditulis tatap dipakai mengajar mengaji anak-anak di masjid dan juga shalat lima waktu meskipun lantainya tidak rata dan banyak tehel yang pecah karena terinjak.

    Beruntung banyak karpet sumbangan Kapolda, hingga tinggal menggunakan itu untuk mengalasi tehel yang pecah. Sebab berbahaya karena tajam jika tidak dialasi. Sementara sumbangan bencana alam banjir dari Pemda Maros, mie instan itupun hanya beberapa orang tetanga yang dapat.

    Olehnya itu, melalui artikel ini penulis mengajak, jika ada handai tolang yang ingin beramal jariyah menyumbang untuk biaya perbaikan lantai masjid Dai Kamtibmas yang ambelas tersebut.

    Silahkan kirim sumbangan, material yang dibutuhkan: pasir, tehel 10x7m semen, ke alamat Jl. Bambu Runcing Lr III Kota Maros. Atau biaya perbaikan ke rekening imam masjid Dai Kamtibmas BRI:4968-01-002510-53-6. An/Hamka.

    Insya Allah insan yang gemar berifak dijanjikan oleh Allah untuk mengganti infaknya lebih banyak. Sebagai mana dalam ayat al-Qur’an:

    وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

    Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.
    QS. Surat Saba’, Ayat 39

    AIR TERKADANG MEMBAWA PESAN KEGEMBIRAAN BAGI YANG HAUS JUGA KESEDIHAN BAGI YANG KEBANJIRAN

    Kajian Dai Kamtibmas
    BY: Hamka Mahmud

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Bupati Maros Terpilih Hanya Menjabat 3,5 Tahun

    Maros - reaksipress.com - Hal yang harus diterima oleh Kepala Daerah terpilih pada Pilkada 9 Desember 2020 lalu, ialah masa jabatannya dipersingkat dengan kurun...

    ‘AMURE’ Kunjungi DPC PKB Maros

    Maros - reaksipress.com - Anggota DPR-RI Fraksi PKB dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan II, H. A. Muawiyah Ramly, M. Si., mengunjungi Kantor DPC PKB...

    DP Nikmati Akhir Pekan di Bantimurung Bareng Nasdem

    Maros, reaksipress.com - Setiap orang punya berbagai macam cara dan tempat untuk menikmati libur akhir pekan. Ada yang mengunjungi mall, pantai dan juga alam...

    Jelang Pra Muscab, 14 Pimpinan DPAC Solid Dukung Havid Fasha Kembali Pimpin PKB Maros

    Maros - reaksipress.com - Menjelang pelaksanaan Pra Musyawarah Cabang Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Maros, Pimpinan Kecamatan atau Ketua Tandfiz Dewan...

    SPIDI Sukses Gelar AQSHA Kompetisi

    Maros - reaksipress.com - SPIDI resmi menggelar AQSHA Competition Volume 5. Kegiatan tersebut berlangsung secara virtual hingga 28 Februari mendatang. Disiarkan secara live streaming di...

    GP Ansor dan Pemateri Kamtibmas

    Opini - reaksipress.com - Selain pemateri dari TNI, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) I GP Ansor Maros juga diisi dari Polri yang dilaksanakan di Pondok...