Lainnya

    Ekonomi dan Ketauhidan

    Artikel.Sosial – reaksipress.com – Ekonomi merupakan cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara material. Dalam peradaban modern yang materialistik ekonomi menjadi komando, dalam istilah Marx menjadi basic struktur yang menentukan suprastruktur seperti budaya, lembaga, struktur kekuasaan politik, peran, agama , dan kesadaran kelas. Pandangan ini mengakar dari wawasan antropologis-teologis yang memandang manusia sebagai homo economicus dengan pandangan reduksionis yang nilai-nilai dan martabat kemanusian dalam kerangkeng determinisme ekonomi dimana semua berujung pangkal pada materi.

    Dalam berbagai buku-buku ekonomi, kita akan melihat dua pandangan terkait ekonomi yang cukup populer yakni ekonomi normatif dan ekonomi positif. Ekonomi normatif menekan pada apa yang seharusnya terjadi dan subjektif terhadap kebijakan dan perilaku seseorang tentang baik buruk. Sedangkan ekonomi positif berdasarkan pada fakta yang terjadi (free-value). Salah satu contoh pernyataan ekonomi normatif yakni tentang penduduk miskin yang seluruh kebutuhan dijamin oleh negara.

    Lantas ekonomi apa yang berlaku sekarang. Saya melihat mayoritas lebih menggunakan ekonomi positif meskipun praktek keduanya susah dipisahkan dilapangan. Dan kita bisa berkesimpulan bahwa ekonomi normatif dipengaruhi oleh budaya, ideologi termasuk nilai-nilai agama.

    Sudirman Hasan dalam buku Sufism and Spirit of Capitalisme mencoba mengurai lebih jauh tentang relasi dan tindakan sufisme dan ekonomi. Sebagai religion heart dalam pandangan Inayat Khan, sufisme memiliki dua hal penting yakni tentang pertumbuhan spiritual (spiritual growth) dan pencapaian material (world achievment). Jika keduanya digabung maka ekonomi akan kian tertransendenkan dan surplus benefit moral namun tidak mengabaikan material sebagai sesuatu yang sangat perlu.

    Pemenuhan kebutuhan material ini bisa menyatu dengan nilai transenden agama. Islam melihat bahwa, kemajuan spiritual dan material terikat secara dialektis, menjadi penggerak kemajuan peradaban. Kulminasinya, agama adalah keseimbangan.

    Dengan demikian, nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dapat tercapai. Nilai-nilai kemanusiaan tercapai karena meminimalisir proses ekploitasi manusia dan faktor produksi lainnya sehingga suprlus nilai tidak direbut oleh para pemodal. Sedangkan keadilan akan bagi mereka yang memahami kepatutan bahwa selain material juga ada nisbah sosial.

    Itu semua jelas dalam Islam bagaimana sebuah kebijakan lahir dari pemangku kebijakan yang mengabungkan nilai-nilai keimanan dan intelektualitas. Akhirnya kemenangan Islam adalah sebuah ide, sebuah cita-cita terserah siapa saja yang mau melaksanakannya.

    Inra Kurniawan (Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat HMI Cab.Buttasalewangang Maros.

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer