Lainnya

    Daeng Pata dan Debu Tambang Tanah Timbunan

    Gowa.Sulsel – reaksipress.com – Aktifitas tambang galian Golongan C untuk beberapa orang mungkin sangat menguntungkan. Selain dibutuhkan dalam proses pembangunan sekarang juga sengaja menggali tanah mereka yang tidak produktif menjadi kolam ikan atau bukit menjadi sawah.

    Namun tidak demikian dengan Daeng Pata (85) salah seorang warga yang menetap di perbatasan Kecamatan Maros-Gowa. Bersama istrinya, Daeng Patarai menetap di Dusun Moncongloe, Kelurahan Pattallassang Kabupaten Gowa.

    Setiap hari, ia yang menjadi petani dan berkebun. Ia lakoni pekerjaannya dengan tegar untuk menafkahi istri dan empat orang anaknya.

    Hasil kebun, seperti buah pisang dan pepaya ia petik dan ia jual sendiri di depan rumahnya. Meski kini keempat anaknya sudah menikah namun ia tidak ingin menjadi beban dan tetap menjual buah.

    Namun harmoni dan manis perjalanan hidupnya berubah tiga tahun terakhir. Semua berawal saat tambang tanah urukan (timbunan) mulai dibuka dan beroperasi tepat di depan rumahnya.

    Rumah Daeng Pata dan warga lain yang diselamatkan debu tambang

    Penjualannya merosot tajam, debu dari aktifitas tambang menempel di setiap buah yang ia jual. Juga nyaris di warungnya tertutup oleh debu. Mirisnya, ia seperti terabaikan oleh pengelola dan pemerintah.

    “Membersihkan debu yang menempel di jualan, saya lakukan tiap hari. Kami juga merasa terganggu dengan kondisi ini.” Katanya dengan mata berkaca-kaca.

    Sebenarnya, Ia ingin protes bersama warga lain namun mereka sadar siapa mereka. “Kami hanya masyarakat kecil yang tidak punya uang dan tidak dipandang. ” Tuturnya.

    Ia dan warga yang lain berharap pemerintah segera turun tangan untuk memberikan solusi atas persoalan yang sudah mereka alami selama bertahun-tajun.

    Setidaknya ia berharap bukan hanya debu yang mereka dapat tapi sejahtera dan imbas baik juga menghampiri dagangan dan hidup mereka.

    Laporan : Isla

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer