Lainnya

    ‘Daeng’ Dalam Perspektif Kearifan Budaya Bugis-Makassar

    Artikel Budaya – reaksipress.com – Bila kita menonton film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” yang disadur dari cerita novel Buya Hamka, tentunya kita akan mendapati sesosok tokoh laki-laki bernama Zainuddin. Sosok lelaki Bugis-Makassar yang digambarkan setia dan pekerja keras dalam mengahadapi realitas kehidupan yang tak gentar ia hadapi.

    Namun karena perbedaan latar belakang sosial dan suku dengan Hayati, si perempuan Minang. Sehingga cintanya pun terhalang. Hingga berakhir dengan kematian. Bolehlah, Zainudin itu disebut sebagai representasi lelaki Bugis-Makassar kebanyakan. Daeng Zainudin, panggilannya.

    Sesekali juga panggilan tersebut sering dilantunkan oleh kawan-kawan saya dengan mengistilahkan sebutan Daeng Guntur, dan begitu juga sebaliknya.

    Seperti lelaki Bugis lainnya dan kita mengambil contoh gambaran lelaki Bugis yang memiliki pengaruh besar hingga ke Pemerintahan Republik Indonesia, contohnya seperti: Bapak BJ. Habibie, Pak Jusuf Kalla, Syahrul Yasin Limpo, Abraham Samad, (Alm) Jendral Yusuf.

    Mereka semua adalah tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh penting di Indonesia, ada pula yang tak kalah terkenal hanya saja beliau berbalik kiblat karena dia bukanlah sosok orang yang punya pengaruh besar di Indonesia melainkan terkenal dikarenakan menjadi korban penggusuran di Kalijodo Jakarta, Daeng Aziz, namanya.

    Panggil aku Daeng, Sapaan Akrab lelaki Bugis-Makassar, ini juga bisa dijadikan sebagai relasi untuk tatanan masyarakat yang memiliki riwayat kekeluargaan Adat Bugis-Makassar, dan Daeng sendiri secara ringkasnya adalah sebagai bentuk penghargaan untuk menghargai yang usianya lebih tua dari diri kita.

    Kalau di Tanah Betawi menggunakan sebutan Abang, di Tanah Jawa dengan sebutan Mas, dan Tanah Sunda dengan sebutan Akang, Kalau di Tanah Bugis-Makassar menggunakan sebutan Daeng, dan maksud dari semua istilah diatas adalah implementasi dari kata Kakanda.

    Di tatanan masyarakat Bugis-Makassar, sapaan Daeng pun sebagai pengharapan sejak turun-temurun, sehingga harus di wajibkan menggunakan ‘Paddaengang’ sebagai simbolis masyarakat keturunan Bugis-Makassar, pada seseorang yang menggunakan ‘Paddaengang’ atau Gelar lelaki Bugis-Makassar. Seperti Daeng Tonji yang berarti (tinggi), Daeng Rewa yang berarti (berani) atau Daeng Gassing yang berarti (gesit).

    Semua ‘Paddaengang’ atau gelar tersebut diberikan biasanya setelah lelaki keturunan Bugis-Makassar, telah melewati masa balik sehingga bisa menjaga sikap ‘Sipakatau Na Sipakainge’ dalam artian kearifan budaya lokal, berarti “saling menghargai dan saling mengingatkan” ada juga yang menjadi landasan lelaki Bugis-Makassar untuk tetap menanamkan dalam dirinya sikap ‘Sikatutui Na Sikalompoi’ yang berarti “kita harus saling menjaga hingga kemudian saling melebarkan silaturahmi”

    Adapun istilah-istilah diatas menjadi bahan pijakan semua masyarakat yang memiliki keturunan darah Bugis-Makassar untuk tetap terus-menerus menjaga ‘Siri Na Pacce’ yang berarti tetap “menjaga toleransi sesama dan menanamkan rasa empati sosial” dengan dasar pemahaman ‘Taro ada Taro Gau’ yang berarti “kita menjunjung tinggi nilai-nilai budaya sehingga menjadi pemersatu” kita bisa menjabarkan bahwa ini adalah sebagai bentuk keberagaman yang menjadikan kita satu (PLURALISME).

    Panggilan Daeng juga memiliki pengaruh besar pada watak lelaki Bugis-Makassar, sehingga tetap memegang prinsip tegu ‘Siri Na Pacce’ Sebuah nilai kearifan lokal atau tradisi yang membuat sikap dan perilakunya selalu terlihat konsisten, karena menjunjung tinggi harga diri dan pantang menyerah.

    Dari kisah Hayati, pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Kenapa banyak perempuan ingin memiliki pasangan keturunan Bugis? Mungkin saja.

    Setelah beberapa kali saya melakukan pengamatan pada banyak kawan-kawan di berbagai tempat, termasuk warung kopi, sekret organisasi, dan sebagainya.

    Setelah mengambil poin pokok dari hasil pengamatan, dan yang menjadi sasaran adalah lelaki Bugis-Makassar “Daeng” dan yang patut di perhitungkan, seperti berikut;

    1.Konsisten dan berani, Lelaki Bugis dikenal ‘Watani Na Magetteng’ yang berarti “berani dan konsisten”. Karena era milenial, sepertinya makin langka lelaki yang konsisten dan berani untuk mengambil risiko.

    2.Rela mati demi harga diri, lelaki Bugis rela mempertahankan martabat harga diri untuk pribadi dan keluarganya. Maka ketika lelaki Bugis dipermalukan, dihina, atau diperlakukan di luar batas kemanusiaan, maka tak gentar lelaki Bugis melakukan perlawanan meskipun mati adalah ganjarannya ‘Paentengi Siri Nu’ menjaga hakikat sebagai lelaki Bugis dan pantang di permalukan.

    3.Pekerja keras, lelaki Bugis memang dikenal ulet dan pekerja keras, apalagi di perantauan. Dan bahkan lelaki Bugis sendiri terkenal hingga Mancanegara sebagai Pelaut Ulung, maka semangat dari semboyang nenek moyang terus mengalir hingga kini, menjadi kobaran semangat untuk memicu menjadi pekerja keras dan ulet.

    4.Setia, lelaki Bugis cenderung setia. Karena saat menikah, lelaki Bugis harus menyiapkan uang ‘Panaik’ sebagai mahar, dalam jumlah yang kadang cukup besar hingga ratusan juta rupiah bahkan, Maka banyak lelaki Bugis bekerja keras untuk bisa mengumpulkan uang ‘Panaik’. Perjuangan itulah yang membuatnya semangat setia dalam mempertahankan rumah tangganya, selain memikirkan uang yang harus dikumpulkan, juga berpengaruh pada hati nurani untuk selalu mengingat kerja keras saat ingin menikah.

    5.Mengutamakan kebersamaan, lelaki Bugis selalu setia kawan dan gemar berbagi. Lelaki Bugis rela berkorban untuk teman-temanya, bahkan berani berkorban sebagai cerminan prinsip ‘Sipakatau’ yang mereka pegang, dan berarti “memanusiakan manusia”.

    6.Cerdik dan jujur, lelaki Bugis memegang teguh filosofi ‘Macca Na Malempu’ yang berarti “cerdas dan jujur”. Bahwa cerdik harus menyatu dengan jujur, seperti yang yang di gambarkan pedagang bugis di tanah rantau. Inilah yang membentuk lelaki Bugis patut jadi teladan, walau tidak semuanya begitu.

    Setelah semua deskripsi penjelasan diatas, secara langsung kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya kemapanan laki-laki tidak boleh dilihat dari perspektif materi, ketampanan, pola tubuh yang atletis bahkan juga harus dilihat dari sikap dan pendirian yang mencerminkan kepribadian lelaki Bugis ataukah tidak?

    Jadi sebagai kesimpulan teruntuk perempuan, jangan menjadikan prioritas utama hanya karena pernah disakiti lelaki lalu kemudian memandang laki-laki adalah kesalahan, karna secara kebetulan pernah disakiti. Semua lelaki di manapun itu, Karena ketahuilah, mencari yang memiliki karakteristik gambaran lelaki Bugis itu kadang seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami perlu ada keuletan…

    Muhammad Guntur Rafsanjani (Finalis Dara Daeng Maros 2020) Pegiat Literasi.

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Peduli Korban Gempa, Kodim 1422/Maros dan Basnaz Kirim Bantuan Ke Sulbar

    Maros - reaksipress.com - Peduli terhadap bencana gempa bumi yang terjadi di Mamuju dan Majene Sulawesi Barat, Kodim 1422/Maros dan Devisi Infantri 3/Kostrad serta...

    Polda Sulsel Kawal Kedatangan Vaksin Sinovac

    Maros - reaksipress.com - Polda Sulsel mengerahkan sedikitnya 410 personel untuk menjamin keamanan dan kelancaran pengawalan vaksin COVID-19 buatan Sinovac yang tiba di Terminal...

    Aliansi Siaga Bencana Maros Kerahkan Relawan ke Sulbar

    Maros - reakspress.com - Aliansi Masyarakat Tanggap Bencana (Siaga) Kabupaten Maros, memberangkatkan sejumlah relawan ke Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (17/01/2021) Pemberangkatan relawan Siaga Maros dilakukan...

    Masih Banyak Pengungsi Gempa Belum Dapat Bantuan

    Sulbar - reaksipress.com - Sejumlah pengungsi korban bencana gempa bumi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), masih minim bantuan dan bahkan ada yang mengaku...

    Akses Mamuju-Majene akhirnya Bisa Dilalui

    Sulbar – reksipress.com - Lonsor susulan yang terjadi di Jalan Poros Majene, Dusun Belalang, Desa Onang Utara, Kecamatan Tubo Sendana Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi...

    Presiden Jokowi Kunjungi Lokasi Gempa Sulbar

    Sulbar – reaksipress.com - Setelah mendengar kondisi Sulawesi Barat yang dilanda gempa berkekuatan Magnitudo 6.2 pada pertengahan Bulan Januari lalu. Akhirnya Presiden Republik Indonesia,...