Lainnya

    Bisnis Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

    Artikel – reaksipress.com – Hampir seluruh sektor bisnis terdampak Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia saat ini, termasuk Indonesia, hal ini disampaikan oleh PT Schroders Indonesia.

    Namun demikian berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), masih terdapat dua sektor yang dinilai masih diuntungkan dengan kondisi saat ini.
    Direktur Schroders Indonesia, Irwanti mengatakan sektor pangan menjadi sektor yang paling aman dengan kondisi COVID-19 yang mewabah mengingat kebutuhan pokok selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

    Bahkan terdapat beberapa kebutuhan pokok yang tingkat permintaannya justru lebih tinggi ketimbang saat kondisi normal.

    “Yang bertahan pangan, karena kebutuhan pokok di saat kondisi ekonomi lemah ini, bahkan ada beberapa barang kebutuhan pokok yang ada lonjakan karena kebijakan ini menyebabkan konsumen membeli dalam jumlah yang lebih besar daripada ekonomi normal. Ini merupakan sektor yang paling defensif,” terang Irwanti.

    Selanjutnya, sektor yang dinilai mendapatkan keuntungan di tengah pandemi ini adalah sektor telekomunikasi. Tingkat permintaan data yang meningkat dengan adanya kebijakan untuk tetap di rumah dinilai menguntungkan sektor ini.

    “Sektor lain terkena dampak negatif, sedangkan hanya dua sektor ini yang dinilai defensif saat ini,” imbuhnya.

    Pandemi Corona atau COVID-19 saat ini telah menjangkit lebih dari 190 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, jumlah pasien positif COVID-19 terus mengalami lonjakan, sehingga pemerintah terpaksa harus memperpanjang masa darurat COVID-19 meskipun saat ini tengah memasuki masa transisi dan new normal di beberapa daerah.

    Untuk mencegah penyebaran corona semakin meluas, pemerintah merealisasikan kebijakan PSBB. Namun, siapa menyangka bahwa kebijakan tersebut berdampak negatif bagi beberapa sektor bisnis.

    Meskipun demikian, ada beberapa bisnis yang dikatakan masih stabil penjualannya. Selain e-commerce, bisnis peralatan medis, dan telekomunikasi. Lalu bagaimana bisnis bahan pangan dengan melihat dari sudut pandang salah satu pekerja pabrik ikan.

    “Jujur, bisnis bahan pangan ini stabil banget. Kita semua yang bekerja dalam sektor pangan masih harus bekerja antarkota, antarprovinsi, bahkan antarpulau untuk menyuplai bahan pokok sehari-hari. Kami rela tidak WFH atau stay at home demi berjalannya rantai makanan dan kehidupan.” kata salah Pekerja pabrik bernama Carolina Aldella yang akrab disapa Mbak Lina.

    Lina mengatakan jika bisnis bahan pangan cukup stabil karena seluruh lapisan masyarakat tetap membutuhkan makan meskipun mereka membatasi aktivitas di luar.

    “Jangan sampai ada manusia yang kelaparan hanya karena pasokan sembako menipis gara-gara COVID-19. Meskipun tidak semuanya sakit, tapi semuanya butuh makan. Coba tanyakan pada pemerintah pusat dan daerah, beranikah mereka memberlakukan lockdown pada sektor pangan?” jelas Lina.

    Penjelasan Mbak Lina cukup masuk akal karena kecil kemungkinannya bagi pemerintah pusat atau pemerintah daerah untuk melakukan lockdown pada sektor pangan. Karena pada dasarnya, manusia membutuhkan makanan untuk tetap hidup.

    Mbak Lina menambahkan, “Lihat Ibukota Jakarta, kalian bisa makan apa kalau seandainya sektor pangan juga di-lockdown? Sawah dan kebun sudah tidak ada. Yakin bahan makanan di supermarket dan pasar tidak akan habis kalau tidak ada pasokan dari luar Jakarta? Aku rasa tidak.” Mbak Lina juga menyebutkan bahwa tidak ada hari libur selama wabah corona merebak di Indonesia.

    ”Bahkan kemarin saat hari raya Nyepi, kami tetap masuk kerja demi menyuplai pasokan ikan. Para nelayan berjuang mencari ikan di laut, kami berjuang mengolah ikan siap konsumsi. Enak toh, kalian tinggal beli terus digoreng atau dibakar dan jadi deh, langsung dikonsumsi.” pungkasnya.

    Mbak Lina juga menjelaskan jika mereka yang bekerja di dalam pabrik, tidak berkeliaran kemana-mana. Saat jam istirahat, bosnya mengizinkan para pekerja untuk membakar atau menggoreng ikan di pabrik dan makan bersama-sama. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi penyebaran corona dengan makan sehat dari dalam lingkungan pabrik.

    Harapan Mbak Lina mewakili para pekerja pabrik yang masih harus bekerja dan tidak bisa WFH adalah untuk saling menghargai mereka yang rela tidak libur demi menstabilkan pasokan pangan.

    Dengan stabilnya pasokan pangan, harganya juga akan stabil. Ia juga meminta dukungan dan do’a bagi para nelayan, petani, dan pekerja pabrik pangan untuk tetap sehat menghidupi bangsa Indonesia.

    Tetapi, lain halnya dengan yang dialami Pak Ardi Siswanto, beliau berpendapat realistis. Menurutnya beberapa orang menjawab bisnis makanan masih bisa survive namun kenyataannya, Ia sendiri menjalani bisnis tersebut dalam bentuk rice box dan ketika virus Corona merebak, secara perlahan bisnis itu mati.

    “Outlet saya tutup dan sekarang katering pun saya belum produksi lagi karena tidak ada pesanan. Teman saya yang punya bisnis katering juga mengalami kesulitan yang sama.” paparnya.

    Jika ditelusuri, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Memang benar jika dikatakan setiap orang butuh makan, apalagi seperti situasi sekarang ini dimana anjuran untuk #DiRumahAja gencar dilakukan. Tapi perlu diingat, para customer juga mengalami situasi yang sama. Terjebak dalam situasi yang tidak bisa bekerja secara normal, banyak proyek yang tertunda atau dibatalkan yang membuat mereka harus melakukan penghematan selama masa krisis ini berlangsung.

    “Mereka cenderung memilih untuk memasak sendiri di rumah untuk meminimalisir pengeluaran ketimbang harus pesan makanan dari luar, di mana risiko yang berkaitan dengan kebersihan juga menjadi perhatian tiap orang saat ini.” Tambah Pak Ardi.

    Selain itu, harga bahan baku yang melambung juga ikut mempengaruhi beban biaya produksi. Dan di situasi yang tidak pasti seperti sekarang ini, Pak Ardi tidak berkenan untuk menaikkan harga demi mengikuti profit.

    Ia mengatakan jika menaikkan harga, itu sama saja seperti bunuh diri. Jadi, menurut Pak Ardi bisnis makanan bukan ide yang bagus untuk saat ini.

    “Sebenarnya ada satu peluang bisnis yang memungkinkan di saat begini. Yakni produksi APD alias Hazmat Suit. Kalau punya kemampuan, dan bisa kumpulkan penjahit, bisa dicoba. Tapi jangan kasih harga keterlaluan, karena barang itu benar-benar dibutuhkan bagi para tenaga medis. Saya sendiri terus terang nggak mau ambil peluang itu. Sebab saya hanya nggak mau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan principle value saya hanya demi cuan. Melihat kenalan-kenalan saya saat ini sedang bergerak solider menyediakan APD untuk diberikan secara gratis kepada tenaga medis yang bertugas, masa saya mau egois dengan ambil untung dari situ? Padahal saya sendiri belum bisa melakukan apapun untuk membantu para tenaga medis untuk berjuang melawan pandemi ini. Tapi kalau kamu atau siapapun mau coba, boleh-boleh saja. Asal tetap pasang hati nurani biar nggak ketinggian matok harga. Tapi kendalanya, modal beli mesin jahit dan material APD-nya nggak murah dan susah untuk didapat.” terangnya.

    Ditulis oleh: Nindi Aulia Putri / Mahasiswi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Azhar Arsyad ‘Oppo’ Pimpin PKB Sulsel

    Makassar - reaksipress.com - H. Azhar Arsyad untuk kali kedua kembali memimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Selatan Periode 2021-2026. Pria kelahiran Makassar, 1 September...

    Aliansi Siaga Bencana Maros Kerahkan Relawan ke Sulbar

    Maros - reakspress.com - Aliansi Masyarakat Tanggap Bencana (Siaga) Kabupaten Maros, memberangkatkan sejumlah relawan ke Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (17/01/2021) Pemberangkatan relawan Siaga Maros dilakukan...

    Presiden Jokowi Kunjungi Lokasi Gempa Sulbar

    Sulbar – reaksipress.com - Setelah mendengar kondisi Sulawesi Barat yang dilanda gempa berkekuatan Magnitudo 6.2 pada pertengahan Bulan Januari lalu. Akhirnya Presiden Republik Indonesia,...

    Masih Banyak Pengungsi Gempa Belum Dapat Bantuan

    Sulbar - reaksipress.com - Sejumlah pengungsi korban bencana gempa bumi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), masih minim bantuan dan bahkan ada yang mengaku...

    TNI AU Kirim Pesawat ke Majene

    Makassar - reaksipress.com - TNI angkatan udara menerbangkan pesawat Boeing 737 dari Skadron Udara V Lanud Hasanuddin untuk memantau situasi dan kondisi pasca gempa...

    Reskrim Polsek Tanralili Tangkap Pelaku Copet di Pasar Tanralili

    Maros - reakspress.com - Unit Reskrim dan Intelkam Polsek Tanralili Polres Maros dipimpin Kanit Reskrim Ipda Erwin berhasil mengamankan dua pelaku copet,...