Lainnya

    Benarkah Muslim Ummat Nabi Muhammad SAW ?

    Artikel.Sosial – reaksipress.com – Muhammad SAW adalah sosok yang paling sederhana. Menaklukan dua imperium besar Romawi dan Persia tetapi dalam hidup tetap tidur dengan pelapah kurma, sekiranya beliau ingin akan minta dibangunkan rumah emas pada pengikutnya. Tetapi tidak pernah sedikitpun diminta. Nabi adalah manusia yang tidak pernah berteori, tapi dalam prilaku menjadi teori untuk ummatnya.

    Hassan Hanafi (1998) dalam sebuah refleksi teologis mengatakan : Kendati pun dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita ini merupakan ummat yang satu (ummatan wahidah), namun sesungguhnya dalam kenyataan yang objektif kita dipisahkan menjadi dua. Yaitu ummat yang miskin dan ummat yang kaya.

    Ungkapan itu adalah sebuah otoritik atas sikap keberagamaan kita semua, apakah seluruh rangkaian kesalehan ini hanya berifat vertikal atau memiliki implikasi material dalam kehidupan bermasyarakat.

    Setiap waktu, tiap tempat, tiap musim, tidak pernah berhenti kita temukan bentuk kehidupan manusia yang berada dibawah garis kemiskinan. Apa itu mempertegas bahwa agama memang mencipta dua unsur masyarakat yakni “ummat kaya dan ummat miskin”, lantas pesan “ummat yang satu” buat siapa ?

    Ramadhan secara harfiah “musim panas” satu bulan ummat muslim memasuki hutan dan menebang beberapa pohon, semak belukar, duri, untuk dikeringkan secara maksimal sehingga pada tahap selanjutnya “pembakaran” akan bisa lebih maksimal. Lahan yang terbakar baik akan menentukan suburnya benih yang kita tanam. Begitu gambaran sosial tentang tradisi berladang dalam suatu masyarakat agraris. Puasa merupakan satu cara/metode untuk mewujudkan itu.

    Sejatinya kekayaan untuk memberantas kemiskinan, mengapa banyak ummat kaya yang berbahagia sendiri sedangkan ummat miskim juga meratapi nasibnya sendiri ?

    Dalam humanisme Gandhi dan Leo Tolstoy menggunakan sistem “keterwakilan”. Bahwa orang kaya adalah wali orang miskin. sepatutnya ada tanggung jawab bagi wali kepada yang diwalikan. karena jika diabaikan itu berarti dosa.

    Muslim mengenalnya sebagai Zakat atau Sadakah. bukan saja sebagai jalan membersihkan harta, tetapi sebagai jalan memberantas kemiskinan. maka seharusnya pesan ini tidak ditangkap dalam mantan (lafaz nya) melainkan maknanya. kita akan ukur tahun ini, apakah Zakat dan Sadakah mampu mengurani kemiskinan atau justru semakin membuat kemiskinan subur.

    Entahlah, hanya Tuhan pemberi petunjuk terbaik. Amin

    Pejalan Kaki (Akar)

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer

    Nuranita, Perempuan Camba Yang Membawa Maros Hingga Tingkat Nasional

    Maros - reaksipress.com - Pemilihan Duta Kampus Tingkat Nasional tahun 2021 yang digelar di LPP Convention Hotel, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlangsung...

    Ini Program 100 Hari Bupati Maros Yang Baru

    Maros - reaksipress.com - Setelah resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Maros oleh Gubernur Sulsel, Chaidir Syam-Suhartina Bohari, kini fokus mempersiapkan program 100...

    DP Nikmati Akhir Pekan di Bantimurung Bareng Nasdem

    Maros, reaksipress.com - Setiap orang punya berbagai macam cara dan tempat untuk menikmati libur akhir pekan. Ada yang mengunjungi mall, pantai dan juga alam...

    Pra Muscab DPC PKB Maros Rekomendasikan Gus Ami Jadi Presiden RI

    Maros - reaksipress.com - Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Maros, sukses menggelar pra Musyawarah Cabang (Pra Muacab), Ahad (28/02/2021) Kegiatan yang...

    Tingkatkan Mutu Pelayanan, Polres Maros Resmikan Gedung Baru

    Maros - reaksipress.com - Berbagai upaya terus dilakukan Polres Maros untuk meningkatkan Kualitas layanan kepada masyarakat, salah satunya dengan membangun fasilitas penunjang pelayanan publik....

    Nakes di Pulau Terluar Sulawesi Selatan Telah di Vaksin

    Pangkep - reaksipress.com - Sejumlah tenaga kesehatan dan unsur kantor desa di pulau-pulau terpencil di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kembali mendapatkan dosis Vaksin jenis...