Lainnya

    47 Persen Pemuda Maros Minta Hari Jadi Maros Berdasarkan Fakta Sejarah

    spot_img
    - Advertisement -
    - Advertisement -

    Minimnya Pemuda Yang Mengetahui Hari Jadi Maros, Chaidir Syam Mengambil Langkah Akan Berafiliasi Dengan Para Budayawan Maros

    Saoraja Institute menggelar agenda rilis riset dan survey terkait persepsi pemuda/milenial terhadap hari jadi dan kondisi sosial ekonomi Kabupaten Maros, Senin (12/07/2021) sore hingga malam disalah satu cafe di pelataran terminal PTB, Jalan Azalea, Kelurahan Pettuade, Kabupaten Maros.

    Kegiatan yang digelar secara protokol kesehatan dan live streaming itu menghadirkan Bupati Maros, Chaidir Syam. Akademisi Universitas Hasanuddin, Prof. Yusran Jusuf. Sekretaris Umum DPD KNPI Maros, Ali Rusdy, dan Direktur Eksekutif Saoraja Institute, Amul Hikmah Budiman.

    Rahmat Basri, selaku Direktur Riset Saoraja Institute pemandu riset mengawali acara dengan penguatan kebangsaan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama seluruh audiens yang hadir dari golongan Akadamisi, Komunitas dan OKP.

    Dalam paparan Saoraja Institute, mengambil 100 responden dari pemuda yang berusia 16-30 tahun dari berbagai latar belakang serta unsur tokoh pemuda di Kabupaten Maros.

    Kepada awak media Amul Hikma Budiman Direktur Eksekutif Saoraja Institute, mengatakan, Terkait hari jadi, masih ada 30,8 persen pemuda yang belum mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Maros, serta angka yang sangat tipis antara pemuda yang setuju dengan hari jadi Maros pada tanggal 4 Juli berdasarkan UU Tahun 1959 sebagai dasar pembentukan Maros serta menginginkan hari jadi Maros berdasarkan sejarah-sejarah kerajaan yang ada di Maros seperti Kabupaten lain yang ada di Sulawesi Selatan yang sudah berumur ratusan tahun. “Ungkap Amul.

    “Angkanya antara 53% yang setuju 4 Juli, dan 47% yang ingin berdasarkan sejarah kerajaan. Artinya masih sangat tipis, pemuda masih butuh literatur sejarah hari jadi lebih mendalam dan massif. ” Tambah Mahasiswa Pascasarjana Unhas tersebut.

    Berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi, Amul juga menuturkan lebih jauh bahwa pemuda masih sulit mendapatkan lapangan kerja dan butuh beasiswa pendidikan dari Pemerintah Daerah. Beririsan dengan hal tersebut sehingga pemuda membutuhkan balai latihan kerja dan pusat UMKM untuk millenial.

    “Dua hal tersebut presentasenya sangat tinggi,” tambahnya.

    Menanggapi hal itu, Bupati Maros. Chaidir Syam mengapresiasi riset dan survey yang dilakukan oleh Saoraja Institute.

    “Kami berterima kasih atas data yang diberikan, ini bisa menjadi pijakan kami dalam mengambil kebijakan untuk kepemudaan”. Kata Bupati dengan Tagline Maros Keren itu.

    Berkaitan dengan hari jadi, Politisi PAN itu mengungkapkan, dalam waktu dekat akan berembuk dengan tokoh-tokoh budaya dan adat untuk berdiskusi terkait sejarah dan Kebudayaan Maros.

    Sementara untuk keinginan pemuda, Balai Latihan Kerja sudah on process.

    “Termasuk creative hub untuk anak muda sudah akan kami garap di Kecamatan Mandai, dan taman di samping Polres, yang tepat berada di Titik Kota Maros,” tambahnya.

    “Doakan kami, mampu menjalankan segala program bersama ibu wabup” Harapnya.

    Kegiatan Riset dan Survey itu ditutup dengan penyerahan hasil riset dari Saoraja Institute kepada Bupati Maros.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    TV REAKSIPRESS

    Reaksi Populer