Artikel – reaksipress.com – Selama beberapa hari, terhitung mulai tanggal 22-27 Juli 2020, teman-teman di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FEB UMMA menyelenggarakan sekolah ekonomi politik. Saya selaku pengelola berjibaku dengan kepanitiaan bagaimana kegiatan ini bisa terlaksana sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Untuk kepesertaan, beberapa mahasiswa dari organ di luar HMI juga berpartisipasi. Suasana forum sangatlah cair, beradu argumen dan gagasan karena saya yakin seluruh ikhtiar menuju perubahan dari hal yang terkecil pun berasal dari gagasan yang dikobarkan bukan hasutan.

Salah satu konten materi yang sempat didiskusikan yakni tentang agama, budaya populer dan ideologi pasar. Agama sebagai pedoman hidup, untuk keselamatan dunia dan akhirat harusnya menjadi benteng dalam menangkal dampak negatif dari budaya populer yang dikonstruk oleh kapitalisme dengan strategi ideologi pasarnya justru malah ikut mengambil bagian dari proses dehumanisasi (tanpa sadar).

Proyek budaya populer untuk menjadikan masyarakat sebagai konsumen yang pasif menjadi betul-betul mulus ketika agama kehilangan daya kritis dan aspek transendensi, agama menjadi profan dan imanen seiring menguatnya komersialisasi agama menjadi komoditas dan entertain serta alat promosi gaya hidup borjuis atau kelas elit, dan itu semua demi akumulasi kapital.

Sehingga dibutuhkan sebuah analisa terhadap kondisi sekarang, terutama meminjam analisis ekonomi politik, untuk membaca realitas sosial dengan lebih jernih, kemudian agama terutama aspek transendensinya diharapkan menjadi basis dalam menentukan arah dari cara pandang serta pilihan sikap kita ke depannya.

Analisis ekonomi politik yg terilhami dari pandangan marxisme dalam membaca laju kapitalisme semakin membutuhkan pembaruan, up grade, hingga tetap kontekstual. Analisis ekonomi politik yang hanya berkisar di seputar stuktur kelas, nilai lebih, revolusi, pertentangan kelas membutuhkan penafsiran ulang dalam rangka penyegaran dan reaktulisasi, terutama perkembangan pemikiran dari neomarxis, mazhab frakfurt dan pemikir postmodern.

Hal tersebut seiring dengan laju kapitalisme yg terus melaju dan berbenah dan masuk kesemua lini kehidupan umat manusia.

Disisi lain analisis (ekonomi politik) ini pun jauh dari semangat transendensi karena berkutat hanya pada persoalan materi dan dunia, sedangkan disisi lain agama kurang dalam membaca realitas sosial karna hanya berkutat pada masalah akidah, fikih, ahlak yang berorientasi pada kesalehan personal dan cenderung menolak hal negatif dari kapitalime hanya secara normatif, bukan analisis sosial dan filosofis yg lebih aktual, memiliki presisi serta kontekstual.

Pemenuhan kebutuhan material ini bisa menyatu dengan nilai transenden agama. Dan Islam melihat bahwa kemajuan spiritual dan material terikat secara dialektis, menjadi penggerak kemajuan peradaban. Kulminasinya, agama adalah keseimbangan.

Tulisan : Inra Kurniawan (Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat HMI Cabang Buttasalewangang Maros)
Editor : MR

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS