Artikel – reaksipress.com – Penulis direkrut oleh Polri jadi Da’i Kamtibmas ada kemiripan dengan kisah Nabi Musa yaitu pada saat Firaun buat kebijakan seluruh anak laki-laki yang lahir harus dibunuh. Lalu kemudian tak diprediksi Firaun kebijakan itulah yang jadi momen hingga nabi Musa masuk di istana kerana diadopsi istrinya untuk jadi anak angkat. Allah ﷻ yang mengaturnya. Dia ﷻ berfirman,

وَقَالَتِ ٱمۡرَأَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي وَلَكَۖ لَا تَقۡتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدٗا

Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,”
QS. Al-Qashash, Ayat 9

Sementara penulis direkrut ketika Polda Sulsel bekerja sama dengan Kanwil Kemenag Sulsel membentuk program Da’i Kamtibmas. Pada saat itu syarat warga yang diikutkan diklat di SPN Batua yaitu mantan narapidana. Pada waktu Kapolda Irjen Pol Burhanuddin Andi dan Kakanwil Kemenag Sulsel Drs H Gazali Suyuti.

Tujuan dibentuk Da’i Kamtibmas yaitu agar dapat mendakwahkan Pemilu damai pada tahun 2014. Inilah letak kemiripannya dengan kisah nabi Musa, kalau Nabi Musa dipungut tak sengaja oleh Asia Istri Firaun saat hanyut di sungai Nil. Sebab ibunya takut dibunuh Firaun.

Sementara penulis didaftarkan oleh seorang anggota Polri bernama Aiptu Luthfi untuk ikut diklat Da’i Kamtibmas. Saat itu penulis berada di Kota Bombana sedang mengikuti pameran buku di acara MTQ. Jadi penulis tak mendaftar, seperti yang pernah diberitakan oleh beberapa media nasional seperti Metro TV, Detik.com dan TVRI pada liputan Ramadhan Tahun 2019.

Setelah ditunjuk menjadi Da’i Polri barulah kala itu penulis ketahui hikmahnya. Dibalik dipenjarakan dulu oleh kakak ipar yang sarjana hukum. Bahwa ternyata Allah ﷻ ingin pilih agar dapat mengemban amanah Da’i Kamtibmas. Terkuak 7 tahun kemudian hikmahnya. Pada tahun 2006 di penjara. Lalu tahun 2014 Polda Sulsel membentuk Da’i Kamtibmas.

Sebuah kasus prematur. Tak etis sebut rekayasa. Prematurnya yaitu sebab kala itu berstatus santri di sebuah Ponpes di Maros. Karena pernah merantau, hingga penulis terlambat tamat Aliyah. Musibah kala itu bukan hanya penulis yang masuk penjara dengan dijerat pasal pidana 310 tuduhan pencemaran nama baik. Namun kakak laki-laki atau suaminya juga ia masukkan ke penjara dengan tuduhan KDRT.

Penulis sadari waktu itu, betapa kuat tekanan ayah dari kakak ipar yang mantan Ketua DPRD. Menekan polisi agar kasus penulis dan kakak harus sampai ke pengadilan, dan masuk penjara. Tekad mereka betul dibuktikan, meski harus dengan saksi palsu yang diperalat.

Bahkan sakin inginnya penulis diringkus polisi kala itu. Hingga sempat didatangi serombongan polisi bersenjata. Dikarenakan ia menelpon ke kantor polisi menuduh penulis bahwa mengamuk di rumah saksinya yang masih anak SMP kala itu. Pada hal saksinya adalah sepupu penulis yang ia peralat.

Mereka tak layak jadi saksi, sebab di bawah umur, begitulah menurut aturan hukum. Tuduhan waktu itu penulis mengamuk tak terbukti. Hingga rombongan polisi yang datang ke rumah melepaskan. Itu pun ketika sudah diintrogasi di kantornya. Kisah itu dramatis.

Ketika Allah ﷻ takdirkan penulis menerima amanah Da’i Kamtibmas. Tak pernah ada sedikitpun dendam ingin membalas pada tetangga. Yang memenjarakan dan juga polisi yang pernah datang serombongan ke rumah penulis untuk menangkap karena dituduh ngamuk di rumah saksinya. Penulis sempat menjalani hukuman 5 bulan penjara murni dan kakak 1 tahun penjara. Jadi total berdua 1,5 tahun.

Kini sudah 6 tahun penulis jadi mitra Polri, sejak meninggalkan dunia perdagangan atau marketing buku yaitu tahun 2014. Dan yang membuat terus semangat karena hikmah dibalik musibah tersebut. Lain halnya dengan kakak penulis usai bebas 1 tuhun penjara. Allah ﷻ pertemukan wanita yang sangat baik akhlaknya, cantik, lebih muda dari yang dulu dan keturunan Arab.

Berbekal mantan napi, sehingga penulis beranikan diri berdakwah di 4 Lapas dan 2 Rutan di Sulsel. Saat fokus mendakwahkan Kamtibmas. Banyak hal-hal yang sepertinya mustahil bisa dilakukan, lalu dapat dilakukan. Karena mungkin Allah ﷻ yang takdirkan dan pilih untuk menerima amanah ini, sehingga semuanya mudah dan terealisasi.

Seperti membangun masjid Da’i Kamtibmas yang diresmikan oleh Kapolda Sulsel, Irjen Pol Dr. Anton Charliyan, menulis buku Ini Jalanku Da’i Kamtibmas yang diberi kata sambutan Kapolri Jenderal Pol M. Tito Karnavian, Ph.D, Panglima Kodam IV Hasanuddin Mayjen TNI Agus SB, dan Prof. Dr. Ahmad M Sewang MA Ketua Umum IMMIM. Juga mendapat apresiasi sebagai warga kehormatan Polri (Honorary Police) dari Kapolda Sulsel.

Semua apresi tokoh di atas seperti mendatangkan ruh dan spirit baru di jiwa. Apatagi penulis meyakini bahwa mendakwahkan Kamtibmas adalah perintah agama di dalam Islam. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Ahmad,

“Seorang muslim ketika orang lain selamat dari gengguan lidah dan tangannya”. Sementara perintah tertib ayatnya dalam al-Qur’an,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. QS Surat An-Nisa’: 59

Tak dapat dipungkiri resiko sebagai Da’i mitra Polri acap kali penulis terima. Caci dan ujaran kebencian. Semua pernah penulis alami. Ada seorang mantan napi yang penulis pernah motivasi untuk bangkit saat dipenjara, ia juga muballik. Ketika bebas menghina penulis dengan kata ‘setan’. Karena mungkin ia dendam dengan polisi, lalu ia tahu bahwa penulis adalah mitranya.

Dia dipenjara dikarenakan memukul pelajar. Ada juga oknum pengurus masjid menghina penulis sebagai pendakwah pembela kezaliman. Semua hinaan itu, tidak ada penulis balas hanya pilih bersabar. Pada hal jika ingin, bisa penulis pidanakan karena termasuk ujaran kebencian.

Jikalau mereka paham misi penulis mendakwahkan kamtibmas. Hanya semata mencegah di luar penjara tak melanggar hukum. Supaya tidak masuk penjara sementara yang di dalam penjara penulis berusaha menyadarkanya agar bertobat.

Kisah penulis jadi Da’i Kamtibmas telah ditulis dalam sebuah buku novel. Insyaa Allah sebentar lagi akan terbit dengan judul: Da’i Lima Penjara. Karena yayasan penulis sudah dapat mengakses ISBN dan telah legal menerbitkan buku.

Tema Hut Bhayangkara tahun ini, “Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif.” Tanggal 1 Juli 2020 milad Bhayangkara Polri ke-74 tahun. Sebagai mitra Polri dengan nomor KTA Da’i Kamtibmas yaitu: B/0039 /2014/Ditbinmas. Berucap selamat Ulang Tahun ke 74 semoga Allah ﷻ berkahi diusia 2/3 abad ini.

Harapannya semoga Bhayangkara Polri semakin profesional, moderen dan terpercaya bagi masyarakat. Dan kisah penulis dan kakak ini jadi pelajaran bagi anggota Polri lainnya terutama ketika menerima laporan masyarakat. Tidak semuanya harus sampai ke pengadilan, meskipun ditekan oleh pelapor.

POLRI TIDAK PERLU RAGU-RAGU TEGAKKAN KAMTIBMAS KARENA IA ADALAH PERINTAH AGAMA

Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika.
BY: Hamka Mahmud Seri 564
HP: 081285693559

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Dirgahayu Bhayangkara Ke 74 - ReaksiPRESS