Artikel.Religi – reaksipress.com – Ada dua kota di Sulawesi-Selatan yang paling banyak kontribusinya dalam menyumbang SDM mumpuni untuk bangsa. Dan menjadi tokoh nasional, bahkan hingga tokoh Internasional. Dua kabupaten/kota tersebut seolah bersaing berebut urutan nomor 1 dan nomer 2 dalam kontribusi mengorbitkan orang berpengaruh di negeri ini.

Pertama, Kotamadya Pare-Pare. Tokoh besar yang lahir di kota ini adalah penemu teori creck pada pesawat terbang: menyelamatkan banyak nyawa manusia di dunia penerbangan hingga saat ini. Yang juga seorang mantan Presiden ke 3 Republik Indonesia yaitu lebih akrab dengan sebutan BJ.Habibi.

Penulis memiliki dua buku tentang sosok penggagas pabrik pesawat IPTN Bandung tersebut. Satu novel Biografi berjudul The Creck dan satunya lagi bukunya berjilid dan ditanda tangani lansung oleh BJ. Habibi berjudul Habibi The Series.

Kota kedua, yaitu Kabupaten Bone. Peran tokoh ini sangat krusial. Terutama saat perjanjian damai antara Indonesia dan GAM. Prof. Hamid Awaluddin sosok yang pernah memberikan penyataan tentang perannya. Hingga berbuah manis saat ini, kedamaian Aceh terus bersenandung berkat tangan dinginnya.

Juga berkontribusi atas redamnya konplik horisontal di Ambon dan Poso. Berkat perjanjian di Malino. Adalah sosok HM. Jusuf Kalla. Beliau juga warga satu-satunya di negeri ini menjabat Wapres dua kali dengan dua pesiden berbeda. Suatu prestasi dan takdir yang mungkin sulit terulang pada orang lain.

Adakah pengaruh asal kota dengan ketokohan seseorang? Jelas ada, bahkan sangat besar. Sebab yang membentuk kepribadian adalah lingkungan tempat lahir serta kerabat. Al-Quran juga mengatesi tentang tanah kelahiran. Mekipun tidak menjurus pada manusianya langsung. Tetapi makanan yang dimakan berasal dari sari pati tanaman tempat dimana awal tokoh itu tumbuh besar.

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ

Dan tanah yang baik adalah tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya.QS. Al-A’raf, Ayat 58

Pare-Pare dan Bone memang sejak zaman penjajahan menjadi wilayah strategis. Masing-masing memiliki pantai dan pelabuhan besar. Satu berada bagian timur Provinsi Sulsel Bone dan satunya di bagian barat yaitu Pare-Pare. Pelabuhannya jadi rute perdangan besar antar pulau. Bone untuk berlayar ke Sutra, ke Kerajan Buton, Ambon. Sementara Pare-Pare penyebarangan ke Kalimatan dan Jawa.

Kini kembali Kotamadya Pare-Pare menyubangkan SDM handal untuk negara. Seorang jenderal yang berpangkat Inspektur. Yang kembali bertugas di kampung halamannya menjadi Kapolda Sulsel yaitu Irjen Pol. Drs. H. Mas Guntur Laupe. Tepat pada 3 September 2019 beredar berita telegram rahasia penempatan jabatan tersebut.

Sewaktu menjadi Wakapolda Sulsel sering penulis jumpa di masjid syuhada 45. Beliau perwira tinggi yang taat ibadah. Terakhir penulis jumpa ketika hendak diutus mewakili Polda Sulsel untuk Diklat Katpuan tahun 2017 yang diadakan Baharkan Polri. Hingga itu, penulis punya sertifikat Dai Kamtibmas satu-satunya yang dikeluarkan oleh Mabes Polri.

Dalam pernyataanya dimuat koran Fajar, 4 Sepetember 2019. Daeng Mappuji atau Puang Mappuji sesuai gelar panggilan bangsawan Bugis. “Bahwa ingin mengayomi. Dan akan memberantas begal dan semua hal yang meresahkan masyarakat.” Saat resmi bertugas.

Dan ada satu pernyataan yang penulis berkesan yaitu, “Masyakat adalah mitra utama kami.” Penulis yang sejak tahun 2014 resmi jadi mitra Polri dalam hal amanah Dai Kamtibmas. Punya harapan besar atas penempatan tugas beliau jadi Kapolda Sulsel tahun 2019 ini.

Yaitu semoga hal ini adalah berita gembira bagi rencana pembuatan film Dai Kamtibmas. Karena beliau mungkin saja sudah melihat dan mendengar kerja-kerja dakwah Kamtibmas penulis dan teman lain. Hingga hal tersebut menjadi nilai pertimbangan akan program proritas yang akan dilakukan ketika sudah dilantik oleh Bapak Kapolri.

Sebab dari tahun 2014 hingga saat ini. Kapolda Sulsel yang penulis memiliki kesan mendalam dan jadi sejarah dalam dakwah kemitraan dengan Polri. Yaitu pertama, Irjen Pol Burhanuddin Andi (Puang Bur). Inilah tahun awal, ibaratnya penulis memikul sebuah gunung dan tatangan besar mendakwahkan pesan kamtibmas saat jadi khutbah atau mengisi pengajian rutin. Begitu juga ketika menulis artikel dakwah.

Kedua, Irjen Pol Dr. Anton Charliyan. MPKN. Pada masa beliaulah masjid Dai Kamtibmas dibangun dan diresmikan. Menyambagi rumah penulis yang tepat didepan masjid. Masa itu pula penulis mendapat penghargaan sebagai warga kehormatan Polri (Honorary Police), juga masa teresebut menulis dan menerbitkan buku Dai Kamtibmas.

Kedua, Irjen Pol Drs. Muktiono, MH. Penulis satu-satunya dari yang mewakili masyarakat dalam rangka diklat peningkatan kemanpuan Dai Kamtibmas yang diadakan Badan Pemelihara Keamanan Polri pada tahun 2017 di Cipayung Bogor. Sebab waktu itu yang di utus Polda cuma dua orang: satu anggota Polri dan satu warga masyarakat.

Ketiga, Irjen Pol Drs. Umar Septono, S.H.,M.H. Pada masa beliau penulis diperkenalkan dengan Kepala BNN RI Komjen Pol Hari Winarko. Ketika itu penulis usai mengisi khutbah di Masjid Syuhasa 45 Mapolda Sulsel.
Dan juga Jenderal Umar mengatesi hingga memberikan kata sambutan di buku penulis yang berjudul DANI-Dai Anti Narkotika.

Sementara Kepolda Irjen Pol Drs. Hamidin. Penulis mendapat kesan ketika acara pisah sambut dengan Kapolda sebelumnya di Hotel Claro. Penulis ketika memperkenalkan diri disaat antrian dan mengucapakan selamat. Tiba-tiba merangkul bahu penulis lalu berfoto bareng.

Semoga saja Film Dai Kamtibmas. Yang bercerita tentang kemitraan Polri dengan masyarakat dapat segera direalisasikan yaitu ketika seorang Jenderal yang juga putra Bugis dalam kisah film juga bercerita tentang kultur budaya Bugis. Dapat direalisasikan di masa Kapolda baru Sulawesi-Selatan yaitu Irjen Pol Drs. Mas Guntur Laupe.

SETIAP INSAN ADA KESAN KETIKA KITA BERINTRAKSI PADANYA. DAN HAL YANG BAIK ADALAH KESAN YANG POSITIF

Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika.

Oleh: Hamka Mahmud

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS