Artikel.Religi – Reaksipress.com – Ada akhlak yang tergerus pada pribadi umat Islam saat ini yaitu ketika melihat orang lain dapat musibah bukannya memohon doa perlindungan kepada Allah ﷻ atas musibah yang menimpa pada seseorang yang dilihat tersebut.

Tatapi, malah seolah memukulkan gendang atau bertepuk tangan gembira terhadap musibah itu. Seperti pengamatan penulis dibanyak media daring yag lagi viral beritanya dan ramai komentarnya.

Terhadap musibah diumumkannya Imam Nahrawi selaku Menteri Olahraga sebagai tersangka oleh KPK. Pada 18 September 2019.

Pada hal, Rasul ﷺ mengajarkan kita doa perlindungan agar tidak ditimpa musibah yang sama sesuai dengan dialami pada orang yang tertimpa tersebut.

Apa maksud dari doa tersebut? Itu adalah doa perlindungan. Karena anda bisa saja terkena musibah yang sama. Selama anda hidup di dunia. Peluang tertimpa musibah dan masuk penjara juga terbuka.

Jadi tidak boleh, artinya janganlah menertawakan seseorang yang bakal masuk penjara atau tertimpa musibah. Begitu juga mantan napi janganlah diperlakukan dengan stigma negatif. Pada hal mantan napi itu telah berubah. Anda yang suka menstigma bisa juga dapat musibah, atau kerabat terdekat anda dapat terkena musibah. Lebih baik diam dari pada bicara negatif.

Atau berdoa, yang kita baca dari Nabi ﷺ dan ada jaminannya terhap sesorang yang membaca doa tersebut. Berikut dari Ibnu Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda,

مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا
كَانَ مَا عَاشَ

“Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu kemudian ia mengucapkan, ‘Alhamdulillahilladzi ‘aafaani mimmab talaaka bihi, wa faddhalanii ‘ala katsiirim mimman khalaqa tafdhilaa”

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya. Jikalau kalimat tersebut diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892.

Olehnya itu, sebagai ibrah peristiwa terpublikasi sebagai tersangka Imam Nahrawi. Meski hal itu belum terbukti kuat, dengan sangkaan korupsi 26 miliar sesuai yang telah diumumkan KPK. Tetapi semuanya harus memegang asas praduga tak bersalah.

Yaitu ibarahnya, bahwa memang jalan kepemipinan ini adalah jalan pengorbanan. Mari kita buka buku lembaran biografi tokoh-tokoh masa lalu. Dari zaman sahabat Nabi ﷺ Umar bin Khattab yang memakai baju bertambal, makan gandum yang paling murah hingga pucat mukanya karena tak bergizi. Pada hal berpeti-peti emas datang ketika menaklukkan Persia.

Hal yang sama pada Gubernurnya bernama Abu Ubaidillah bin Jarrah rumahnya tidak berpintu dan tidak berperabot kecuali hanya ada alat masak dan satu buah pedang. Hidup qanaah, adalah solusi dari syahwat harta saat memimpin.

Penulis perumpamakan tugas kepimpinan itu seperti matahari. Memberi cahaya dan tidak harap kembali. Atau seperti kata M. Agus Salim yang rela jual minyak tanah demi menghidupi 8 anaknya, lalu berucap, “Bahwa jalan kepemipinan adalah jalan penderitaan.” Bukan jalan menumpuk harta, dan hidup hedonis.

Ironis ketika ada pemimpin yang suka menumpuk harta. Ketika rakyatnya datang memohon padanya bantuan, pintu rumahnya ditutup. Dan disposinya mengudang doa murka malaikat. Sebagaimana doa malaikat setiap datang pagi,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Jadi, seseorang yang memimpin masyarakat sudah selesai dengan syahwat harta: dunia ditanganya, bukan dihatinya. Hawa nafsunya terhadap harta dapat dikendalikan. Ia seperti insan yang sedang berpuasa, tidak mau menyentuh makanan, minuman sejak terbitnya matahari hingga terbenam.

Begitu juga tidak ingin berhubungan badan dengan istrinya meskipun istrinya tersebut halal. Jadi puasa tidak mengubah di siang hari status makan, minuman dan istri menjadi haram. Tatapi puasa adalah puasa pendidikan penguasaan diri atau nafsu dikendalikan. Bukan nafsu yang mengendalikan diri kita.

AMBIL HIKMAH DAN JANGANLAH MENABUH GENDANG ATAU MENARI ATAS MUSIBAH ORANG.

Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika. BY: Hamka Mahmud Seri 485 HP: 081285693559

Berikan Tanggapan Anda
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS