Artikel.Religi – reaksipress.com – “Bukanlah aib ketika bajumu kotor gara-gara rizkimu. Itu masih lebih mulia dari pada berbaju bersih, rapi berdasi tapi makan yang haram.”

Penulis merungkan dalam sekali rupanya makna dari ungkapan bijak diatas. Yang tidak sengaja penulis jumpai dihalaman media daring.

Dengan berlatar belakang gambar harimau berlumuran lumpur, lalu dimulutnya terdapat seekor ikan gabus yang berhasil ia sergab buat mengisi perutnya.

Meskipun arah makna kalimat tersebut adalah pada seseorang yang mencari uang halal. Demi menjauhi yang haram. Maka ia tak peduli berbaju lusuh, berjubah kotor

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
QS. Surat ‘Abasa, Ayat 24

Namun, ibrah lain dari kalimat bijak tersebut adalah dapat pula ditarik pada sikap Abdul Aziz yang telah mengakui kekhilafannya. Atas kliru dan kontroversi judul desertasinya. Hingga memicu tanggapan keras umat Islam di Indonesia. Lalu ia mendapat tekanan dari berbagai kalangan, iapun luluh demi marwah.

Artinya; bukanlah aib seorang doktor yang sudah kotor bajunya kerena judul dan hasil penelitian desertasinya keliru. Lalu mengakui kesalahannya. Demi selamat dari merintis dosa jariyah, atas motivasi kesadaran pengukuhan gelar doktor dia memohon maaf. Dan merevisi judul dan isi desartasinya, berucap;

“Mempertimbangkan kontroversi terkait desertasi saya yang saya tulis yang berjudul, “Konsep Milku al Yamin Muhammad Sharour sebagai Keabsahan Hubungan non Marital.”, saya menyatakan akan merevisi desertasi tersebut berdasarkan atas kritik dan masukan dari para promotor dan penguji pada ujian terbuka, termasuk mengubah judul menjadi, “Problematika Konsep Milku al-Yamin dalam pemiliran Muhammad Sharour.” dan menghilangkan beberapa bagian yang kontroversi dalam desertasi. Saya memohon maaf pada umat Islam atas kontroversi yang muncul atas desartasi saya ini. Saya juga menyampaikan terima kasih, atas saran, respon dan kritik atas desertasi ini dan keadaan yang diakibatkan oleh kehadirannya dan diskusi yang menyertainya.” Inilah bunyi surat pernyataam Abdul Aziz.

Dari peritiwa tersebut, dapatlah kita semua ibrah. Yaitu suatu penelitian akademik dapat dikukuhkan dan diakui sebagai suatu penemuan ilmu pengetahuan yang baru jika memenuhi dua unsur.

Sebagaimana dalam penegakkan hukum postif, juga harus meninjau terpenuhi dua unsur: adanya hukum yang dilanggar dan tinjauan efek sosial jika hukum itu ditegakkan. Artinya, tidak ada penolakan publik yang berlebihan ketika hukum itu ditegakkan. Hingga dapat saja berdampak mudarat yang besar.

Ini dua hal yang paling ideal dan mesti terpenuhi dalam menegakkan hukum positif. Ungkapan ini penulis pernah dengar dari Kapolri Jendral Polisi H. Muhammad Tito Karnavian M.A., Ph.D.

Penelitian akademik juga demikan: yaitu asas manfaat dari penelitian tersebut. Dan penerimaan publik terhadap ilmu yang dihasilkan dari hasil olah rasa, dan pertimbangan analisa pemikiran serta perenungan matang sang peneliti.

Begitulah kritik Pimpinan MUI Pusat atas tenggapannya desertasi Abdul Aziz, pada poin lima dinyatakan; “Menyesalkan pada promotor dan penguji desartasi yang tidak memiliki kepekaan perasan publik dengan meloloskan dan meluluskan desetasi tersebut yang dapat menimbulkan kegaduhan yang merusak tatanan keluarga dan akhlak bangsa.” Dimikan pernyatan Pimpinan MUI Pusat yang ditanda tangani oleh Wakil Ketua, Prof. Dr. H Yunahar Ilyas, Lc., MA dan Sekjen Dr. Anwar Abbas, M.Ag.

Maka ayat al-Quran yang juga doa tepat selalu dibaca bagi seorang peneliti. Sebab jalur profesinya sangat mulia. Namun, jangan sampai disalah gunakan.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” QS. Ali ‘Imran: 8

MANUSIA TEMPATNYA SALAH DAN DOSA.TETAPI YANG TERBAIK MEREKA YANG MENGAKUI DOSANYA LALU MOHON MAAF.

Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika.

Oleh: Hamka Mahmud

Berikan Tanggapan Anda
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS