Prabowo, Ksatria yang Lapang Dada

15
0

Kajian Dai Kamtibmas – reaksipress.com – Berjiwa besar, berhati lapang. Itulah karakter mulia yang diteladankan oleh mantan Danjen Kopasus yang belum ditakdirkan menjadi Presiden Indonesia yaitu Prabowo Subianto. Dihapan rakyat Indonesia beliau memperlihatkan sikap mulianya. Usai dinyatakan kalah dalam oleh KPU pemilihan presiden 2019-2024.

“Saya ini, biar bagaimana pun ada pekewu-pekewu ada toto kromo.” Tutur Prabowo, “Kalau mau ucapin selamat maunya lansung.” Ucapnya sambil berdiri di samping Jokowi, lalu membalik badan, menyulurkan tangan penuh akrab bersalaman.

“Sekarang tidak ada lagi namanya cebong, tidak ada lagi kampret yang ada adalah Garuda Indonesia.” Balas Jokowi dengan penuh takzim untuk memuliakan semua rakyat Indonesia dengan menyeru dan sepakat menghapus kalimat umpatan pemecah belah tersebut.

Dari pertemuan tersebut, penulis ingin menganalisa sikap ksatria Prabowo Subianto yang bertemu dengan Presiden Jokowi lalu mengucapkan selamat atas kemenangannya di lokasi MRT Sabtu, 13 Juli 2019:

Analisa pertama, Prabowo sejatinya mengamalkan ilmu militernya yang sudah mendarah-daging, bahkan telah menjadi sumsum dalam tulang belulangnya. Karakter itulah yang mendorong beliau mengucap selamat, menaruh hormat. Dengan mengakui kemenangan lawan kompetisinya dalam pilpres. Sikap tersebut adalah bukti bahwa Beliau tidak ambisius jabatan, tetapi hanya ingin mengabdi untuk bangsa. Itulah hasil dokrin didikan tentara.

Kedua, Prabowo mengamalkan filosofi tarik tambang. Apa nilai etik dari pertandingan tarik tabang? Bahwa tidak selamanya menjadi pemenang itu harus maju kedepan. Ada kalanya menjadi pemenang harus mundur kebelakan, seperti dalam kompetisi tarik tambang.

Ketiga, Prabowo meniru sikap cucu Rasulullah sallalahu alayhi wasalam yaitu Husain bin Ali. Ketika terjadi pembelahan dua kelompok umat Islam. Semasa wafatnya Khalifa Ali bin Abu Talib. Husain memilih lapang dada, mengalah dan tidak ngotot berseteru dengan Muawiyah

Sebab, ia melihat dengan firasatnya bahwa pasti terjadi pertumpahan darah pada pendukung setianya. Jika tetap ambisius dan enggan islah, lalu menyerahkan kekhalifaan kepada Muawiyah bin Abu Sofyan.

Pada hal waktu itu, dari segi hak Husain lebih berhak jadi khalifa: Ia anak Khalifa Ali bin Abu Talib, Dia juga cucu Rasulullah saw. Sayidina Husain memilih mengalah kepada Muawiyah untuk kebaikan umat.

Keempat, Prabowo mencerminkan sosok karakter seorang muslim sejati. Yang mana karakter seorang muslim sejati adalah ia selalu mengucapkan salam keselamatan. Terutama disetiap shalat, muslim sejati pasti mengucapkan salam keselamatan. Salam itu diucapkan saat senang maupun susah, lapang maupun sempit, menang maupun kalah. Muslim sejati, selalu selaras dengan lidah dan perbuatannya.

Kelima, Prabowo memuliakan semua insan, bagitu pula Presiden Jokowi. Sebab telah sepakat membuang jauh-jauh dan mengubur sedalam-dalamnya kata, “kampret dan cebong”. Sikap mereka tersebut adalah cermin pengamalan dari firman Allah swt dalam alquran,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam,
QS.Surat Al-Isra’, Ayat 70

Kalau Allah swt saja memuliakan seluruh manusia dengan kata, ‘karramnaa’ dalam ayat diatas. Lalu kenapa kita saling menghinakan sesama warga Indonesia dengan ucapan nista cebong dan kempret, hanya karena pemilu. Mari kita berstiqfar! dan mengubur kalimat yang bertentangan dengan alquran tersebut.

Keenam, Prabowo dan Jokowi sepakat, bahwa kemajuan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia diatas segala galanya. Itulah yang membuat mereka berdua bertemu, mengucap saling rindu, merangkul hangat, duduk mesra, dan sepakat menatap kedepan untuk Indonesia Raya.

BANGSA YANG MAJU BIASANYA PARA PEMIMPIN-PEMIMPINNYA BERJIWA BESAR DAN BERHATI LAPANG

Penulis: Hamka Mahmud, S.Pd, (Da’i Kamtibmas Maros)
HP: 081285693559

Apa Komentar Anda ?
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS