Menyoal Idiom “Rakyat”

17
0

Sebutan “rakyat ” tak lagi merdu terdengar, tak punya efek yang kuat, mungkin juga tak lagi punya arti yang jelas.
Dahulu kata “rakyat” , merupa keinginan bersama, gotong-royong, kesima lahirkan ketundukan, juga perasaan bersemangat.

Tahun politik di tengah krisis, kata ”rakyat” belakangan dapat saja menjadi sebuah problem. Kedaulatan rakyat berada di tangan kelompok tertentu, para aktivis juga HAM rame-rame meninggalkan habitatnya, mereka pergi dan bersuaka, rakyat sungguh mulai asing, terlebih jika disandingkan dengan utang yang harus mereka cemaskan sejak kelahiran.

Dalam dialog implementasi ke-rakyatan, hari ini rakyat bagian penduduk yang tak sedang berkuasa dari sebuah negeri, mereka buruh, jelata dengan luka-luka basah.

Berbeda dengan di negara tirai bambu, kata ”rakyat” dalam istilah ”Republik Rakyat Cina”.masih berarti sebuah kekuatan tersendiri, bahkan mengandung makna perlawanan, sebagaimana demo rakyat terhadap sistem peradilan China ‘yang sangat cacat’, dan menggerus independensi.

Ekspresi sastra dalam kontekstual, mengulas “rakyat” sebagai =
….
jutaan tangan yang mengayun bersama dalam kerja
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara.

Pramudya Anantatur menukilkan bahwa  “Rakyat adalah tangan yang bekerja…..

dan sastrawan Taufik Ismail, menutupnya
” bahwa rakyat adalah beragam suara di langit dan tanah tercinta ini, bahwa Rakyat ialah kita….’_
Tulis : Sang Baco

Apa Komentar Anda ?
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS