Pengamat politik, Karyono Wibowo menilai ada yang ingin menunjukkan sistem demokrasi gagal di Indonesia dan ingin menggantinya dengan sistem lain.

Hal tersebut dinyatakannya dalam diskusi publik di Gedoeng Joeang ’45, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/2019).

Ia menjelaskan, manuver-manuver politik yang dilakukan salah satu pihak capres dalam Pilpres 2019 menunjukkan hal tersebut.

Dari mulai memainkan narasi kecurangan sebelum hari pencoblosan hingga melakukan unjuk rasa memaksa penyelenggara Pemilu untuk melakukan apa yang diinginkan capres.

“Ada yang ingin menunjukkan sistem demokrasi gagal di Indonesia dan mengganti dengan sistem lain. Ya kita tahu lah, mereka menunggang salah satu capres, bikin manuver-manuver yang tujuannya bikin kacau. Dari mulai deklarasi kemenangan mendahului KPU hingga memainkan narasi kecurangan untuk mendelegitimasi KPU,” kata Karyono.

Karyono menegaskan, seharusnya semua pihak menahan diri menunggu hasil penetapan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), siapa yang menang pada Pemilu Serentak 2019.

Ia menambahkan, kelompok tersebut terus membisikkan capres tersebut untuk terus melakukan delegitimasi KPU dan menghasut para pendukungnya untuk membuat kekacauan, hingga akhirnya masyarakat menilai demokrasi gagal dan harus diganti.

“Mereka terus membisikkan ke capres tersebut untuk terus tak terima quick count, real count, hingga terus bilang curang dan deklarasi kemenangan. Kasihan sebetulnya, capres itu masih bisa maju lagi pada lima tahun mendatang. Tapi kalau dia begini terus, ya image di masyarakat jadi tidak baik,” Jelas Karyono.

Sebagaimana diketahui capres 02 Pilpres 2019 beberapa kali melakukan deklarasi kemenangan Pilpres 2019 sebelum penetapan pemenang secara resmi dari KPU, satu di antaranya dilakukan beberapa jam setelah pencoblosan pada 17 April 2019.

Selain itu, beberapa anggota tim suksesnya meminta Bawaslu mendiskualifikasi pasangan calon nomor urut 01 karena dianggap melakukan kecurangan secara terstruktur, sistematis dan masif.

Apa Komentar Anda ?