Maros.Sulsel- Reaksipress.com -Sore tanggal 07-12-2018 usai mengisi ceramah rutin di masjid Nurul Iman Rutan Makassar lasung menuju ke Rumah Sakit Awal Bros untuk membesuk mantan Bupati Maros. Andi Najamuddin Aminullah (Puang Nuntung), Beliau ketika menjabat Bupati punya kesan tersendiri bagi penulis memipi Maros pada tahun 2000 hingga 2010, kesannya terutama saat penulis menjual buku di aula Masjid al-Markaz Maros.

Menurut penulis, sepertinya inilah yang dimaksud ayat disurah ar-rad tetang budi baik manusia akan selalu dikenang, atau perbuatan baik yang dilakukan akan tinggal dibumi menjadi amal jariyah.

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Adapun yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. Qs.Ar-Ra’d, Ayat 17

Berkat Beliau membeli banyak buku yang penulis jual waktu itu, senilai hampir sepuluh juta. Bertepatan dengan membeli banyak juga buku putra orang terkaya di kota penulis bernama Haji Syamsul. Hingga dari keuntungan pembelian buku kedua tokoh tersebut. Penulis gunakan untuk ikut menikah Akbar 17 pasang tanggal 07-07-2007 di pesantren Darul Istiqamah.

Memori tersebut penulis sempat ungkap saat berada di kamar rumah sakit, dihadapan pembesuk yang lain, dan putranya serta Istri keduanya, sebab istri pertama Beliau telah lama wafat. Lalu ayahanda Puang Nuntung memperkalakan penulis dangan Istri kedua Beliau dangan berucap sesuatu yang tidak penulis sangka, dengan ucapan, “Beliau ini sahabat saya dulu sewaktu masih Bupati ibu”

Penulis mendengar pernyataan itu, merasa tesanjung, sebab penulis lebih senang dianggap anak beliau ketimbang dianggap sahabat Beliau karena putra-putrinya seumuran dengan penulis.

Sambil berbincang-bincang, penulis juga memijit-mijit tangan beliau. Lalu memberikan kalimat motivasi untuk semangat lekas sembuh. Di organ pernapasan Beliau dipasang alat bernama nebo kata perawat untuk mengencerkan lendir ditenggorokan ayahanda Puang Nuntung.

Penulis ungkapkan, bahwa ketika masih tidur penulis masuk dikamarnya. Penulis lansung mengangkat tangan lalu berdoa, dengan membaca doa yang Nabi saw menjamin kesembuhan, bagi orang sakit yang dibesuk, jika memohon dengan doa tersebut, bagi belum ajalnya, doa berikut:

“Tidaklah seorang hamba muslim menjenguk orang sakit sebelum datang kematiannya, kemudian mengatakan; AS`ALULLAH AL ‘ADLIM RABBI AL ‘ARSYI AL ‘AZHIM AN YASYFIYAKA (aku memohon kepada Allah yang Maha Agung Penguasa ‘Arsy Yang Mulia, agar Dia menyembuhkanmu), sebanyak tujuh kali kecuali ia akan disembuhkan.” (HR. Ahmad: 2030)

Rupanya sakit yang menimpanya adalah sebuah insiden jatuh dari lift rumah pribadi istrinya. Ketinggian diperkirakan tujuh meter, kata putra beliau yang turut mendapingi merawat. Hingga menimbulkan efek bengkak dikedua pergelangan kaki Ayahanda Puang Nuntung.

Istri beliau banyak meghibur dan berucap pada penulis, “Banyak sekali pembesuknya puang, Pak Kiyai Sanusi Baco, Bupati dan banyak lag dari Maros datang, tidak berhenti datang membesuk, pasien paling ramai pembesuknya puang”

Medengar hal tersebut penulis berucap, “Iya ibu haji, banyak orang sedih atas sakit yang menimpa beliau, saya ibu haji sengaja datang karena puang, begitu membekas dihati dan ingatan kami terutama pengemban dakwah saat Beliau memimpin Maros. Sebab Beliau yang buka kerang dakwah hingga nampak hari ini syiar agama begitu semangat di Maros”

Bangunan monumental warisan beliau adalah Masjid Al-Markaz Maros dan tokoh yang pernah didatangkan ke Maros adalah Imam Masjidil Haram Mekkah Syekh Suraim, bertepatan waktu itu penulis baru menjual buku di al-Markaz Maros awal tahun 2006.

Mendengar ungkapan memori penulis, nampaknya puang nuntung semangat, lalu kembali menghibur beliau, “Bahwa tidak apa-apa ini puang, Insya Allah mungkin disuruhki istirahat sejenak, dan Allah ingin menghapus khilaf puang karena sebab sakit ini.” Lalu penulis sebut ayatnya, tentang musibah yang menimpa boleh jadi kebaikan.

ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ

Janganlah kamu mengira (musibah) itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. QS An-Nur, Ayat 11

Ayat diatas menjadi mukaddimah dibuku penulis ‘Ini Jalanku Dai Kamtibmas.’ Di karenakan ada buku itu dalam ditas penulis, lalu penulis keluarkan dan perlihatkan ayatnya pada Beliau, hingga nampak wajahnya senang, ketika penulis bacakan ayatnya.

Kemudian sebelum pamit penulis hadiahkan buku tersebut pada ayahanda mantan Bupati Maros dua priode tersebut. Sosok Bupati yang paling berkesan dihati penulis dan masyarakat, ia dermawan dan sebab lain, saat memimpin Beliau hidupkan syiar agama. Karena ayahandanya adalah tokoh agama di Maros bergelar Puang Tobo.

Beliau adalah satu pejabat yang penulis tulis dalam kisah novel The Honorary Police. Saat pamit, penulis bersalaman dan mencium tangan beliau lalu berdoa berucap, “Semoga Lekas Sembuhki Puang!” “Aamiin” Dengan lirih.

HANCUR BADAN DIKALANG TANAH BUDI BAIK PADA ORANG LAIN AKAN SELALU DIKENANGNYA

Oleh ; Hamka Mahmud, S. Pd

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS