Artikel – reaksipress.com – “Ende-endeang atau elo diaseng” (Bahasa Bugis), dengan makna yang sama disebut “tale-talekang atau ero nikana”(Bahasa Makassar), sebuah istilah dengan maksud serupa atau se-anonim, istilah dalam bahasa Bugis dan Makassar lampau yang tetap bertahan hingga kini.

Sejak generasi 70-an sampai sekarang, idiom yang sering terdengar atau telah membumi bagi masyarakat Bugis Makassar, sebuah istilah yang mengemaskan ekspresi tingkah laku seseorang, tapi bisa di tambahkan bahwa pelaku ende-endeang tersebut semisal tingkah-laku yang tidak mempedulikan apa kata orang lain, atau berbuat sesuka hati. Namun, perilaku atau perbuatan pelaku ende-endeang tersebut, sebenarnya cendrung dianggap keterpurukan sikap, tapi di-era sekarang istilah ini dimaknai dengan pencarian jati diri, atau perbuatan itu karena mengindahkan perhatian orang lain. Biasanya hal ini dilakukan juga untuk menarik perhatian orang yang disukai.

Sedang orang yang mengucapkan istilah ini, dengan menanggapi perilaku ende-endeang tersebut secara psikologi bermaksud (dengan) sedikit mencemooh perilaku demikian. Semisal ucapan saat seseorang mengungkapkan kekesalannya atau suasana hati yang sedang kurang senang bahkan emosi pada pelaku ende-endeang tersebut.

Perilaku Ende-endeang dalam strata usia dinisbatkan pada remaja belasan tahun yang cendrung melakukan sebab terkena istilah ini, dengan istilah sekarang di sebut “ABG”, ya…ende-endeang sebuah sikap terjadi secara umum, dan perilaku ini setua dengan lahirnya istilah tsb.

Adapun atraktif ke-ragaman ende-endeang yang paling sering tampak terjadi di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, dengan cendrung dilampiaskan sewaktu berkendaraan, sebagai contoh pengendara motor dengan kecendrungan menggunakan knalpot yang suaranya besar atau bogar , lalu pengendara dengan menindih gas tinggi juga tepat saat berada di tempat keramaian, kadang pula diikuti dengan kecepatan tinggi. Karena pelemahan bahasa dengan atraktif tadi, ia bisa saja dianggap sedang mencari sensational di tengah suasana meriah atau ramai.

Namun gejolak umum yang terjadi terhadap perilaku ini, di era 70-an cendrung menghinggapi anak usia belasan, tapi di era kini ende-endeang bukannya hanya perilaku usia belasan tapi bahkan usia 30 keatas, kondisi yang tampak saat mengguna motor besar namun dengan keadaan seperti yang kami paparkan tadi. Ironis dulu dan sekarang peristiwa ende-endeang ini, sebab masyarakat lampau pada usia 30 –an itu tidak terjadi lagi sebab dianggap telah dewasa dan malu atau segan berprilaku demikian.

Kesepakatan bahasa dalam istilah ini, tidak lagi dimungkinkan atas makana ende-endeang tersebut, namun masih tidak elok jika ende-endeang dimaknai pencarian jati diri dengan usia demikian atau 30-an.
Atraktif lain dari sikap ende-endeang ini, dahulu selalu ingin dianggap berpacar banyak atau play boy, yang berakibat sang remaja kemudian banyak mencari perhatian atau “caper”, sikap atau perbuatan yang dilakukan untuk menarik perhatian orang yang disukai.

Ende-endeang hanyalah stimulus terhadap teks yang diharapkan sebagai istilah dalam memoar bahasa, dan kami dalam telaah istilah bahasa daerah ini tetap menerima masukan dari pembaca, mungkin ada ragam lain dari sifat ende-endeang tersebut. Yang jelas bahwa “ende-endeang” bukan kata-kata popular yang menunjukkan sebuah sensasi tapi masyarakat lampau menyelipkan cemooh terhadap perilaku tersebut. “ende-endeang ?!, waspadalah”…._sumber A.D.Asq.

Oleh : Sang Baco

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS