Maros.Sulsel – reaksipress.com – Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan spot dan kawasan wisata di Kabupaten Maros, diantaranya melalui film. Hal itu tergambar dari enam film pendek karya pelajar Maros yang menjadi pemenang Festival Film Pendek (FFP) Maros 2018, Kamis (20/12/2018).

Festival Film Pendek ini digelar oleh Bidang Ekonomi Kreatif (Bidekraf) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros bekerjasama dengan Maros Creative Capture (Macaca) Sinema. Keenam film tersebut ditayangkan dan dinonton bersama di Gedung Baruga B Kantor Bupati Maros.

Keenam film itu, yakni Manca, Untuk Sebuah Buku, Where Is My Cow, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang dan satu film tanpa judul. Film-film itu mengambil latar rammang-rammang, pantai kuri, PTB dan Bandara Sultan Hasanuddin.

Mewakili Macaca Sinema, Ilham Halimsyah mengemukakan, Festival Film Pendek Maros merupakan ajang kompetisi karya film lokal, yang menyasar pelajar dan mahasiswa. Pada pembuatan film pendek, peserta diwajibkan syuting di tempat yang berlatar wisata, kegiatan ekonomi kreatif atau kebudayaan di Maros.

“Keenam film tersebut merupakan karya finalis dari 11 karya film yang masuk ke panitia, setelah dilakukan diseleksi sesuai syarat lomba, oleh para juri menetapkan enam film sebagai nominasi, yang berhak mendapatkan tropi serta uang tunai yang telah disiapkan oleh Bidekraf Disbudpar Maros,” ujar line producer sejumlah film lokal Maros ini.

Setelah pemutaran film, juri memberi review terhadap film-film tersebut, sesuai kriteria penilaian yang meliputi ide cerita, tampilan cinematography, tata suara dan unsur pendukung lainnya. Kemudian melakukan penilaian dan menetapkan Where Is My Cow sebagai film terbaik pertama, Manca sebagai film terbaik kedua dan Untuk Sebuah Buku, SSYSM, Surga Kecil Butta Salewangang, film tanpa judul sebagai film terbaik ketiga.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Maros, Kamaluddin Nur mengatakan, bahwa film merupakan ajang kreasi insan seni yang harus dikembangkan untuk mendukung kebudayaan dan kepariwisataan Maros.

Melalui festival film ini, pihaknya berharap pengarapan film lokal oleh generasi muda, yang tren disebut generasi milenial tidak hanya sebatas cerita cinta, tapi juga cerita berlatar budaya dan pariwisata.

“Karena kekayaan alam Maros menarik bagi wisatawan yang datang, sehingga melalui film masyarakat secara meluas dapat mengenal Maros yang kita cintai ini. Harapan saya juga, film-film pendek ini bisa berbicara di tingkat provinsi bahkan nasional,” ungkapnya.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS