Budaya.Sulsel – reaksipress.com – “Badik” merupakan nama senjata tradisional suku-suku di Sulawesi Selatan. Sebuah penamaan benda pusaka yang di berikan oleh “atturiolong” atau leluhur suku ini. Meskipun di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang memiliki beberapa suku besar dan ragam tradisi yang berbeda, yakni suku Bugis, Makassar, dan Toraja, namun ketiga suku besar di Sulsel tersebut memiliki satu kesamaan dalam memberi nama terhadap senjata khas yang mereka sakralkan yaitu “badik”.

Tentunya selain digunakan sebagai jaga diri dari gangguan orang jahat, badik demikian dianggap bisa menolak bala. Ulasan dapat menolak bala menurut sumber Tamering karena berdasar “sennung-sennungeng” (prasangkaan baik terhadap badik berupa titipan permintaan saat awal pembuatannya kepada si empu badik. Nah badik pusaka masih diyakini dapat menjadi azimat dan berpengaruh ke arah baik atau buruknya bagi pemilik atau pemegang badik tersebut.

Badik bagi ketiga suku besar di Sulsel tersebut dianggap fungsinya sama, selain dianggap sebagai benda pusaka juga pelindung. Badik digunakan untuk membela harga diri baik sifatnya individu maupun keluarga. Harga diri bagi masyarakat Sulsel dan Sulbar secara umum disebut dengan istilah Siri atau Siri’ Na Pacce.

Andi Waris Karaeng Marusu dalam sebuah seminar benda pusaka memaklumatkan, bahwa badik yang dibuat khusus oleh “panrita badik” untuk seseorang, dalam sebuah peristiwa di mungkinkan dapat menggantikan pemiliknya, atau dengan kata lain bahwa si badik miliknya menggantikan dirinya tepat saat ia duduk di pelaminan, sebab berhalangan duduk pengantin, namun bukan karena hal disengaja atau dalam kondisi sangat darurat, sehingga badik sebagai simbol keterwakilan dari pemilik badik tersebut diterima adanya sebagai perwakilan.

Andi Danial Asq (Pemerhati budaya) menuturkan, saya sedikit tidak sepemahaman dengan beberapa penamaan yang disematkan, semisal badik khas suku Makassar yang diberi penamaan secara umum bernama “Badik Lompo Battang”, (perut besar), perihal inisial nama ini pula menggejala di Maros sebab badik dengan sisi tajam yg melengkung agak kebawah pula di identikkan dengan lompo battang, padahal ia mempunyai nama tersendiri yang harus diselamatkan, adapun keseragaman penamaan badik khas makassar seperti misal : De’de Taeng, Panjarungang, Manuju, Lengkese, dan Campaga, juga dede apa dan dede baru, juga semuanya di inisialkan dengan dengan nama tersebut. Ia menambahkan penamaan ini jangan terjadi sebab memertahankan istilah ” gendut besar atau perut besar” mengakibatkan generasi belakangan tidak tahu lagi penamaan asli dari karakter badik yang melekat padanya, dan nama tersebut bakal kehilangan atau dilupakan.

Masyarakat Bugis Bone, memiliki macam jenis badik khas, namun yang paling dikenal dan disakralkan adalah badik jenis gecong. Badik ini dahulunya hanya digunakan oleh seorang raja atau bangsawan, konon badik yang disakralkan ini selalu terlibat di setiap acara adat masyarakat Bone, misal dalam pencucian badik pusaka maupun acara tradisi tolak bala.

Menutup ulasan dengan pandangan umum, bahwa dahulunya badik tak bisa lepas dari pinggang seseorang ke mana pun ia pergi, demikian juga ketika mereka merantau, badik menjadi barang sakral yang wajib ikut dan menemani dalam perantauan.

Oleh : Sang Baco

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS