Maros.Sulsel – reaksipress.com – Sebagai rangkaian Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), yayasan Bakti bekerja sama denganĀ  Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Maros menggelar kampanye, menolak pernikahan anak.

Ketua Panita Temu Remaja Sulawesi Selatan Stop Perkawinan Anak, Muhammad Taufan menjelaskan, pihaknya sengaja mengangkat tema terkait stop perkawinan anak, karena saat ini fenomena perkawinan anak dibawah umur, masih sangat marak. Berdasarkan survey yang ada, di Sulawesi Selatan angka perkawinan anak cukup tinggi, karena berada di atas rata-rata nasional. Sulsel berada di urutan ke 9 dengan persentase perempuan kawin di bawah usia 18 tahun sebesar 33,98%. Sementara perkawinan anak usia kurang dari 15 tahun mencapai 6,7%, sedangkan rata-rata nasional berada di kisaran 2,4%.

“Untuk perkawinan anak usia 15-19 tahun angkanya mencapai 13,86% atau lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 10,80%,” jelasnya.

Taufan menambahkan, kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di beberapa daerah, merupakan salah satu langkah advokasi pencegahan perkawinan anak.

Berdasarkan data di provinsi Sulsel kabupaten terbesar terjadinya perkawinan anak yang tinggi. Di Sulsel, dengan jumlah tertinggi perkawinan anak dibbawah umur ada di daerah Luwu. Maros sendiri berada di posisi ke 5, dalam hal perkawinan anak.

“Dalam sebulan di Sulsel, perkawinan anak dibawah umur bisa mencapai 100 orang lebih. Faktor utama dalam terjadinya perkawinan anak ini adalah faktor pendidikan orang tua yang rendah, dan faktor kemiskinan. Dua faktor ini sangat berpengaruh, sehingga banyak anak-anak yang dinikahkan diusia muda,” bebernya.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS