Artikel.Budaya- reaksipress.com -Masa silam kerajaan-kerajaan di sulawesi selatan menandai 2 etnik ini yaitu ”Bugis dan Makassar”, dan kedua suku ini seolah 1 buah idiom, atau dalam penyebutan selalu dikaitkan bahkan disatukan. Bugis sebagai penamaan disinonimkan dengan “to Ugi”, atau sekelompok masyarakat suku Bugis, sedang Makassar disinonimkan dengan “to Mangkasa”, atau sekelompok masyarakat suku Makassar, namun dalam pengetahuan secara plural sebagai bentuk dekadensi kejamakan istilah sejarah terhadap 2 idiom ini seolah disepakati tanpa tertulis akan penyatuannya dengan padanan istilah : Bugis-Makassar.

Menurut almarhum Prop DR Mattulada, Budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin Makassar, mengungkapkan kesatuan istilah “Bugis Makassar”, sebab kausalitas kesamaan konsep pemahaman religi menghayati simbolik empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan, yang juga dikenal dengan istilah, “Sulapa eppa” (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah.

Keberkaitan hal ini pula, disinyalemen dalam satu sisi sejarah yang ditulis oleh Leonard Andayai dalam bukunya, menyampaikan sebabnya bahwa, “Arung Palakka. Ia tidak menaruh dendam kepada Kerajaan Gowa yang menguasai Bone, ketika itu, bahkan Arung Palakka, secara sederhana kemudian mendekatkan semua kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan dalam satu ikatan perkawinan. Demikian pula bagi orang Makassar, mereka sebenarnya tidak memiliki dendam dengan orang Bugis. Sebab keterlibatan orang Bugis hanyalah mempercepat terjadinya perang.

Masa bundu selleng / perang sebab tawaran pahaman Islam, lebih bersifat sebagai tawaran yang baik dari kerajaan Gowa pada kerajaan Bone, dengan istilah awal yang sesungguhnya dianuti, bahwa” inai mbuntuli kebo’ baji/ iga riolo runtu’ adecengang ri pisabbiangngi naisseng se-wanuaE”, (terj : jika ada yang menemukan pahaman kebenaran, maka hendaklah memberitahukan kepada yang lain), sebab kejut implementasi kebaikan istilah inilah, sehingga Aru Palakka kecil dan Sultan Hasanuddin yang lebih muda 2 tahun kala itu tumbuh bersama dibawah asuhan Karaeng Pattingalloang_ dan jika sebab keinginan kepenguasaan VOC sejak awal hanyalah ketertundaan dalam recana untuk menguasai Kerajaan Gowa ?. Dan Leonard Andayai , pada buku “The Heritage of Arung Palakka”, menyampaikan bahwa, “hingga kenyataan tersebut, di luar Sulawesi Selatan mereka tetap menyatu, bahkan mereka (baca: orang Makassar) menyebut dirinya juga orang Bugis. kini istilah Bugis sepertinya tidak serasi tanpa kata makassar, yaitu Bugis-Makassar.
____________________________________
Kaimuddin mbck, Stimulus buku “The Heritage of Arung Palakka”, dalam Mengapa 2 etnik ini ”Bugis-Makassar”selalu di dikaitkan bahkan disatukan.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS