Meretas Sejarah Berdirinya DDI AD Mangkoso, yang merupakan kesadaran awal untuk mengambil peran dalam fungsi mengajak manusia ke jalan yang benar dan membimbingnya menurut ajaran Islam ke arah kebaikan demi mendapatkan keselamatan dunia akhirat.

Suatu realisasi dari keputusan musyawarah Alim Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah se Sulawesi Selatan tentang perlunya dibentuk suatu organisasi guna lebih meningkatkan fungsi dan peranan MAI Mangkoso, maka muncullah beberapa usul tentang nama bagi organisasi yang akan dibentuk itu. Antara lain usul dari K.H. Muh. Abduh Pabbajah dengan nama “نصر الحـقّ”, dari Ustadz H. Muh. Thahir Usman mengusulkan nama “العـروة الوثقى”, sementara Syekh Abd. Rahman Firdaus mengusulkan nama “دارالدعـوةوالارشـاد“. Setelah dimusyawarahkan, maka yang disepakati secara bulat adalah nama “Darud Da’wah Wal Irsyad”.

Menurut Syekh Abd.Rahman Firdaus pemberian nama demikian adalah merupakan tafaul dalam rangka menyebarluaskan dakwah dan pendidikan dengan pengertian, Darun (دار) = Rumah, artinya tempat atau sentral penyiaran, Da’wah (دعـوة) = Ajakan, artinya panggilan memasuki rumah tersebut. Al-Irsyad (الإرشـاد) = Petunjuk, artinya petunjuk itu akan didapat melalui proses berdakwah lebih dahulu di suatu daerah kemudian disusul pendidikan pesantren/madrasah.

Telusur sebelum era Kemerdekaan atau masa kerajaan, Mengabadikan nama H. Muhammad Yusuf Andi Dagong di-angkat menjadi “arung” di swapraja Soppeng Riaja (salahsatu kecamatan dalam wilayah Kab. Barru sulaweai-selatan), ia memimpin kurang lebih tiga tahun dan masa itu menandai berdirinya tiga masjid di daerah kekuasaannyaitu, salah satun Masjid yang didirikan itu berada di Mangkoso sebagai wilayah ibu-kota kerajaan.

Karena masyarakatnya pada waktu masih baru mengenal Islam maka masjid tersebut tidak berisi jamaah, sebagai tanda bahwa perjuangan tidak boleh hanya sampai di situ. Untuk menawarkan Islam beliau menuai solusi dengan Mengadakan pertemuan di Swapraja (rumah basar kediaman raja. Kediaman Mangkoso pertemuan itu menyepakati untuk membuka lembaga pendidikan dengan meminta Anre-Gurutta H.Muhammad As’ad (seorang ulama memimpin yang memimpin madrasah/pesanteren MAI di-Kab.Sengkang Wajo),agar mengirim seorang murid-Nya yaitu Gurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengelola lembaga Pendidikan tersebut. dalam bentuk pengajian, yang dalam istilah Bahasa Bugis disebut “angajiang”, yang akan di-buka di Mangkoso (kini Terletak di Barru).

Hingga Tanggal 29 syawal 1357 H, atau bertepatan 21 desember 1938, Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle, resmi membuka pesantren di Masjid Jami Mangkoso dengan sistem HalaQah, dalam istilah bahasa Bugis disebut “angajiang si tudangeng”.

Masyarakat menyambut gembira dan menerima program itu hingga pemahaman dan pengetahuan Islam kala itu sedikit berkembang, Dan kumudian kurang lebih satu tahun dengan izin Allah Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle Membuka tingkatan Tahdiriyah, Ibtidaiyah, dan Madrasah pesantren tesebut di beri nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso, tepatnya pada tanggal 20 dzulqaidah 1357 H.atau januari 1939.

Seiring Dengan perkembangannya MAI, maka terbuka pulalah berbagai cabang di daerah sekitaran misal-Nya, di Kab.Pangkep, Soppeng, Wajo, Sidrap, Majene, dan berbagai daerah lain-Nya, dan menegaskan bahwa Ag H Abdurrahman Ambo Dalle Pendiri /Pimpinan DDI AD

Semakin MAI ini berkembang dan bermasyarakat hinggi dalam perkembangnya dan hasil dari Pertemuan para Alim-ulama/kadhi se-sulawesi-selatan serta guru-guru MAI Resmi mengganti Nama Madrasah Arabiyah Islamiyah MAI Mangkoso dengan cabang cabangnya yang sudah tersebar di berbagai derah menjadi Darud da’wah wal-irsyad (DDI) tepatnya pada tanggal 16 abiul awal 1366 atau 7 pebruari.

Dua tahun kamudian atas permintaan Arung Mallusetasi, Anregurutta H.abdurrahman Ambo Dalle, diminta menjadi Kadhi Pare-pare, sebelum pindah pindah di pare-pare, sang pendiri menunjuk Anregurutta H.Muhammad Amri Said sebagai pengganti-Nya untuk memimpin pesantren DDI mangkoso.

Berselang beberapa waktu tepatnya Pada Tanggal 1 muharram 1369, H. anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle selaku ketua umum DDI Memindah-kan pengurus pusat DDI dari Mangkoso ke Pare-Pare sementara pondok pesanteren DDI mangkoso di beri cabang status otonom dengan kewenangan penuh mengatur dan mengelola pesantren, namun secara organisasi tetap berada di bawah struktur PP-DDI, sejak itu DDI berkembang pesat dan mengelola puluhan pesantren ratusan madrasah yang tersebar berbagai provinsi, khusus-Nya di wilayah Indonesia Timur.

Atas kesepakatan para tokoh pendiri DDI, tanggal 17 ramadhan 1424 H. di tambah-kan nama-Nya Anregurutta H Abdurrahman Ambo Dalle di belakan nama DDI, sehingga menjadi nama (DDI abdurrahman Ambo Dalle). (DDI-AD) penambahan nama tersebut, selain untuk mengenang dan mengabadikan nama (Anregurutta H Abdurrahman Ambo Dalle) sebagai pendiri utama, juga di maksud’kan untuk melestarikan nilai/budaya serta dasar perjuagan beliau dalam membangun dan mengembangkan DDI hingga menjadi organisasi Islam terbesar di-Indonesia Timur_ Berbagai Tinjauan Pustaka/SB.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS