Maros.Sulsel – reaksipress.com – Mangrove merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh hidup diair payau dan berlumpur. Tumbuhan ini juga, hidup dari pasang surutnya air laut.

Dalam keseharian mangrove bukan lagi kata yang asing ditelinga, dimana akrab dikenal bahwa mangrove yang berfungsi sebagai pencegah abrasi pantai. Di Indonesia khususnya di Kabupaten Maros, hampir sepanjang bibir pantai dan juga sungai, tumbuh berbagai jenis mangrove.

Tanaman yang tumbuh subur sedikitnya 203 jenis ini, ternyata memiliki manfaat sebagai alternatif ketersediaan pangan. Meski demikian tidak banyak yang tahu bahwa buah dari mangrove ternyata bisa diolah menjadi berbagai bahan makanan.

Dosen Kehutanan Universitas Sulawesi Barat Suparjo Razasli Carong menjelaskan. Rabu (12/9/2018), bahwa ada banyak jenis mangrove yang buahnya bisa diolah untuk menjadi makanan. Hal itu, mrujuk ke ekosistemnya.

Ia menyebutkan beberapa jenis mangrove yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan (edible), mulai dari Sonneratia sp, Avicennia sp, Bruguiera gymnorhiza dan Acanthus illicifolius.

“Informasi mengenai bisa dimanfaatkan atau tidak berasal dari masyarakat sendiri (local wisdom) plus beberapa hasil penelitian yang memang menyebutkan kandungan mangrove baik untuk tubuh dan sangat cocok sebagai alternatif pangan,” jelasnya.

Alumni Megister Sains Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu melanjutkan, untuk pengolahan buah mangrove menjadi makanan umumnya diturunkan dulu kadar Tanin dan HCN-nya dengan cara dilakukan perendaman dengan abu sekam atau dengan direbus dengan arang.

“jenis lindur (Bruguiera gymnorrhiza) yang secara tradisional bisa diolah menjadi makanan dan mengandung energi dan karbohidrat cukup tinggi,” katanya.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kandungan energi yang dihasilkan antara lain 371 kalori per 100 gram. Sedangkan kandungan karbohidratnya sebesar 85.1 gram.

“Ada berbagai macam olahan seperti Keripik mangrove dari Bruguiera, jus dan selai mangrove dari Sonneratia, bisa juga buat keripik Acanthus, ini mirip-mirip dengan keripik bayam,” katanya.

Sayangnya kekayaan alam mangrove negeri Maritim Indonesia khususnya di Kabupaten Maros, membentang hampir sepanjang bibir pantai dan bantaran sungai. Ironinya, tidak banyak yang tau manfaat lain ini. Malah hanya dilakukan pembabatan-pembabatan ilegal oleh oknum.

Sehingga, populasi dari pada tanaman yang kaya potensi ini terganggu dan hanya sebatas perisai pantai dan penjaga bantaran sungai

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS