Jika ada penyebar Islam dengan predikat sukses tertinggi, dengan metode dakwah terbaik, sebagaimana meng-Islamkan seluruh penduduk kota Yatsrib (kini Madina), maka ia adalah Mushab Bin Umair. Pemuda paling tampan dan kaya di Kota Mekah, setelah Islam merasuk di jiwanya, ia lalu menjual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.

Dengan fikiran yang cerdas, budi yang luhur, juga dengan kejujuran, kesungguhan hati serta sifat zuhud, Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk tersebut, hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam, tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Meski muda, Mush’ab dipilih Rasulullah untuk tugas maha penting itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Yatsrib dengan mengenalkan hingga mengajarkan seluk beluk Agama ini pada kepala-kepala suku di Yatsrib, sebuah tanggung jawab nasib Agama Islam dalam proses panjang di kota Yatsrib tersebut, suatu hal yang menguatkan kemudian ketika Rasul hijrah ke-kota tersebut, dan tempat itu telah menjadi pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan, Mushab yang muda dan menjadi dai’, hal yang tampaknya mustahil sebab Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungan yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya , sebagai anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?, Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair.

Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Yatsrib. Ia berkata, “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Mendengar suksesnya da’wa Islam yang diantar Mushab, seorang kepala suku Usaid bin Hudlair sangat murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam, didatanginya orang-orang yang duduk bersama sedang Mush’ab di todongkan lembing kelehernya, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Tenang laksana samudera dalam dan dengan wajah damai bak cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab “, ia mengeluar¬kan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu?, seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan meng¬hentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan bagai hipnotis ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri, sebelum Mush’ab beranjak memenuhi janji akan meninggalkan dengan maksud tidak merugikan orang lain. Tiba-tiba “sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembing¬nya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab mem¬bacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa. oleh Muhammad bin Abdullah saw

Sebelum Syuhada:

Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya mem¬bawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab ”, sebagai pembawa bendera.
Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan meng¬undurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah sua-sana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi ke¬kalahan.
Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Mus¬limin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan serangan ke arah Rasul¬ullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka di¬acungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan aungan singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melom¬pat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara dengan sasaran penuh. Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar, sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam, tetapi musuh kian bertambah banyak sebab pengalihan Mush’ab demi mereka meninggalkan Rasulullah.

Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibra¬him bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:
“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan¬nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil mem¬bungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” . Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan me¬nusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “.

Gugurlah Mush’ab dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengor¬banan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan memper-tahankannya, semua demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasul¬ullah
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya, seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasul¬ullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasul¬ullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam mem¬bela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:
“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw. dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mushab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andai kain pendek itu ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutup¬kan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasul¬ullah saw.: “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kaki¬nya tutupilah dengan rumput idzkhir!”

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS