Makassar.Sulsel – Reaksipress.com – Konstalasi politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) diprediksi akan berpengaruh terhadap kekuatan Wapres Jusuf Kalla di Sulsel. Hal ini tercermin dari sikap “abu-abu” JK, meski menolak sebagai ketua tim pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin, tapi dia mengaku siap jika dipercayakan jadi Ketua Dewan Pembina tim pemenangan.

Disisi lain, keluarga JK, seperti Aksa Machmud dan Erwin Aksa memberikan sinyal bergabung pada koalisi penantang, yakni Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sinyal dukungan itu tidak menutup kemungkinan adalah bukti pecahnya dukungan keluarga JK di Pilpres.

Manager Strategi Jaringan Suara Indonesi (JSI), Nursandy yang diminta tanggapannya tidak menepis bahwa, kekuatan elektoral JK memang sedang diuji di Pilpres tahun depan,”Ketokohan dan pengaruh elektoral JK memang kembali diuji,” kata Nursandi, jumat (17/8/2018).

Menurutnya, JK yang tidak ikut pada kontestasi politik bergengsi itu berbuntut pada migrasi pemilih JK pada Pilpres 2014 lalu,”Saya kira tantangannya karena JK tidak mencalonkan lagi sehingga terjadinya migrasi pemilih berpeluang terjadi,” ucapnya.

Dijelaskan lebih jauh, suara elektoral yang diperebutkan tokoh-tokoh sulsel yang bersebrangan dengan JK di Pilpres, peraliha. “Isu dan program yang terkonfirmasi ke publik serta kerja-kerja politik semua tim pemenangan,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Priyanto mengatakan, memang ada kecenderungan JK tidak terlibat langsung di Pilpres tahun depan. Hal ini juga menjadi sinyal bahwa JK seolah main aman, termasuk pada kubu Jokowi dan koalisi Parpol pengusung.

“Posisi JK untuk tidak terlibat langsung kompetisi Pilpres, mengindikasikan sebagai upaya untuk bermain safety, dalam hubungannya dengan Jokowi dan Koalisi pendukung,” ucap Luhur.

Menurutnya, dengan menolak menjadi ketua pemenangan Jokowi – Ma’ruf, JK sudah diposisi yang tepat. Bukan hanya persoalan sikap politik yang berbeda, tetapi secara teknis juga memang sulit untuk memegang jabatan rangkap sebagai wakil presiden yang lebih banyak mengambil alih tanggung jawab pemerintahan sekaligus ketua tim pemenangan, terutama di masa kampanye.

Akan tetapi, disisi lain, JK juga secara gmablang mengaku akan siap menjadi Ketua Tim Penasehat Jokowi-Ma’ruf jika dibutuhkan.

Namun, jika melihat arah dukungan keluarga dan klan JK,  memang ada konstelasi politik yang terkesan disembunyikan. Hal ini diperkuat dengan arah dukungan Aksa Machmud dan Erwi Aksa ke Prabowo-Sandi.

Jika itu benar-benar terjadi, artinya pelaksana elektoral JK adalah keluarga Aksa Machmud. Praktis, pengaruh JK bisa saja meredup.

“Tetapi hampir dipastikan kekuatan dan sumberdaya dukungan JK justru di tim PAS. Kehadiran Aksa Mahmud dan Erwin Aksa mengindikasikan dukungan itu. Merekalah pelaksana operasi elektoral JK di berbagai kesempatan pemilihan,” ucapnya.

“Tetapi justru sikap JK yang cenderung “abu-abu” di Pilpres sebenarnya di butuhkan dalam meredam tensi kontestasi yang memanas. JK akan menjadi jangkar stabilitas, yang mengawal kontestasi di pemerintahan transisi,” tandasnya.

Tapi perlu diketahui, politik itu sangat dinamis, kemungkinan berubah dalam waktu yang singkat sangat terbuka. Ketua OKK Demokrat Sulsel, Zulkarnain Paturuni yang dikonfirmasi soal strategi untuk membendung kekuatan JK di Sulsel enggan dia komentari.

Dia mengaku tidak yakin jika JK benar-benar akan mendukung Jokowi-Ma’ruf. “Saya tidak yakin, pak JK tidak dukung Sandi,” katanya singkat.

Diakuinya, bahwa konstestasi politik Pilpres sangat dinamis. “Sangat dinamis,” tandasnya.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS