Tonton film Spartacus mengemas kota seks kuno yang bernama Pompeii, sebuah kota (kini “negara Italy)dengan  kebejatan seks  yang ditenggelamkam Tuhan dengan lemparan petir dan letusan gunung berapi. Seks bebas memang menjadi sebuah polemik tersendiri bagi setiap bangsa, pun seks dengan ranah perdebatan pula tidak akan ada habisnya, meski dipahami bersama bahwa seks bebas merupakan problematik umum, sebutlah  Jerman menjadi salah satu negara yang membenarkan praktik pelacuran secara hukum, otomatis perdagangan seks menjadi sebuah industri yang berkembang pesat di negara ini. Demikian pula Perancis,  disinyalir menjadi negara yang paling terbuka soal seksualitas terhadap anak-anak, juga Norwegia sangat bersikap terbuka dalam hal mencari pasangan untuk berhubungan seks, pula di Kota Denmark, memang menjadi salah satu tujuan wisata lendir yang paling pesat perkembangannya saat ini. Toko penjualan alat-alat seks dan rumah bordil yang menampilkan para pelacurnya bukan menjadi suatu hal yang tabu. Seks bebas di kota ini telah  menjadi kebudayaan.

Tubuh perempuan selalu dianggap sebagai mumpuni objek cinta dengan histat tertinggi, dan dalam bahasa langit dikatakan bahwa tubuh perempuan juga factor keindahan yang terpaksa mejadi dahsyat dlm perspektif pandangan Islam, dengan  sinyalemen adanya 2 mahluk memperindah yang bercokol di pinggang, juga bahwa perempuan adalah sebaik-baik ciptaan.

Seks dalam perspektif suku Bugis, mengenalkan istilah “Assikalabineng”, sedikit berbeda dgn kepluralan pandangan barat, ketika seks bagi Suku Bugis yang diabadikan dalam kitab kuno mereka dalam teks “lontara'”,  lebih detil me-menu-kan konsep hubungan seks dalam : Teknik rangsangan, gaya per¬setubuhan, penentuan jenis kelamin anak, hingga doa dan mantra seks, dalam banyak dialogi perihal tersebut dianggap kitab ini rinci dalam wujud hubungan seks yang indah dan anggun.

Seks zaman now, sebut saja “barat sana”,  obyek cinta itu dibuat  semisal iming-iming dengan fantasi yang fariabel, katakanlah bahwa obyek seks tubuh perempuan itu dipengaruhi juga oleh kerja komunitas, di Italy misalnya ada klinik untuk “Vagino plaste”, (bhs italia artinya operasi untuk  selaput darah) atraktif semacam refarasi selaput darah yang di lakoni dokter ahli refroduksi perempuan.
foto : Sang Baco “humor seks”.
Study kasus, Perihal wanita Sudan dengan pasangan pria Italy, maka  untuk malam pertama agar wanita Sudan terlihat perawan sebagai persaksian kearifan di kampungnya, ia sebelumnya harus operasi selaput agar kembali perawan, yang terbukti kelak menyisakan tanda di sefrei pengantin dengan “darah keperawanan”.
Lain lagi kejutan yang di buat pasangan mesum di Los Angeles,  semisal malam acara “valentine”,  pasangan mesum yang telah berulang-ulang melakukan seks, dengan si wanitanya, melakukan pula sebelumnya operasi tersebut, tujuannya demi kejutan agar tampak perawan oleh pasangannya, setalahnya kata pasangan lakinya  “ih bisamu perawan lagi..?, nda bisaku terimai”.
Keahlian refarasi selaput darah alat refroduksi perempuan, bagi peradaban barat merupakan  efek kultural, termasuk ideologis.  filosofi 2 dari peristiwa diatas berbeda dalam tutorialnya, bahwa betapa  seks bagi seseorang dijadika upaya untuk peristiwa kebohongan, dapat dikatakan bahwa “keadaan  Vagina itu dapat di jadikan alat berbohong di Sudan,  dan jadi barang candaan atau humor di Los Angeles,  terlepas bahwa berapa banyak org ingin menikmati ekspresi cinta, terpaksa harus mengedit rasa cintanya, setelahnya mungkin ia menahan /jeda terhadap keinginan seksnya hanyaa karena ada tutorisasi kebenaran lain dari jenis moralitas public, entah itu di sponsori agama, kurikulum sekolah , pandangan moralitas dan etnik tertentu__ Penulis : Kaimuddin Mbck

_____________
Reaksi Pres : Esai dan Budaya. Maros Jumat 10 Agustus 2018.

TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS