Artikel- reaksipress.com -Alam telah menganugerahi wanita dengan kecantikan, keanggunan, cinta,  sikap acuh  bersamaan dengan sifat rayuan, kelemahan fisik wanita merotasi ke-konsekuensi dari kekuatan perasaannya, telaah sejarah perempuan merupakan general  yang turut  menentukan peradaban suatu bangsa. Perempuan adalah sosok  agent of change, baik buruknya menjadi cerminan suatu bangsa. Sejarah menorehkan nama-nama agung perempuan yang pernah dilahirkan di dunia ini, mereka sosok pionir perubahan bagi masyarakatnya, tidak terkecuali negara Indonesia. Mengesan dalam peristiwa proklamasi,  tampaknya perempuan dominan hadir mengantarai sejarah  sacral tersebut, kausalitas peristiwa mengenang dengan dibangunnya pula  tugu khusus perempuan disekitar tempat  proklamasi. Mereferentasekan  ideology  bahwa  “orang yang paling baik adalah  yang memperlakukan perempuan sebagai mana ibunya” 

Meretas jejak perempuan dalam banyak mitos, tampaknya tempat  perempuan memang sangat istimewa, bangsa Mesir Kuno sangat menghargai perempuan, maka darah bangsawan era bahuela itu tidak diwariskan dari darah laki-laki atau ayah, melainkan dari ibu, karenanya, untuk menjadi Pharaoh seorang laki-laki harus menikahi putri berdarah bangsawan. Semisal  Jawa dengan pandangan Dewi Sri, juga suku Batak yang menegaskan sejarah mereka bahwa nenek moyangnya adalah perempuan dengan gelar “Guru Depraruja”, demikian pula di Indonesia Timur dalam catatan lampau terkenal dengan istilah budaya disebut “Tomanurung”, seorang raja  pertama kerajaan  Gowa adalah perempuan. 
Pandangan skeptic bahwa “tua atau dulu itu baik” itu bahkan berlanjut sampai hari ini, dalam nyanyian nasional yang memujanya, sosok perempuan itu bernama “ Kartini”  dipanggil “Ibu kita”, Citranya dengan nilai keteladanan tak hanya di resapkan sebagai bagian pergerakan progresif, tetapi juga  sebagai pengayom struktur yang konservatif. 
Perempuan era kontemporer_Sosok Kartini modern hari ini, tampaknya mereka tergerus arus kehidupan, meninggalkan nilai  keteladan dengan cita-cita sederhana membangun generasi dari rumah yang di asuh penuh oleh ibu, mengenalkan pakaian adat juga pakaian muslimah,  bukan berpakaian  atlit angkat besi, juga semisal kostum pengecer bensin di pertamina juga pakaian yang berlumur keringat bangunan sebab menjadi kuli bangunan, aura dan aurat dalam eksplotasi kemoderenan meciptakan  ikon kostum perusahaan hingga penjajakan segala barang dagangan.
Perusaahaan dengan unsur periklanan me-mazgulkan perempuan menjadi   percakapan bebas, sebentuk kemerdekaan untuk mencari sendiri apa yang benar dan  salah, serupa dengan peran laki-laki , dalam pandangan  bahwa perempuan juga manusia seutuhnya adalah makhluk dimensi yang sama dengan kemampuan ditaklukan atau menaklukkan. Era yang terlindas oleh simponi ambisi diri dan perempuan itu sedang meretas jalan…, lakeko mae….?
_________
Reaksi Press : Esai : Kaimuddin Mbck.
TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS