..Kasus lampu jalan ini bangsat…!”, meminjam kata “bangsat” melengkapinya sebagai kalimat “makian”, sebab kasus ini seperti cacing pita mengerang lalu pasif dan tidur panjang di perut, kasus yang mengendapkan kita di jalan gelap, dapat dikatakan bahwa pelakunya seperti hantu gentayangan saja, pelik seperti dahulu kasus kematian aktivis HAM Munir, rumit seritme lambatnya penanganan kasus Setya Novanto. Tapi ketika banyak kasus demikian dan presiden kita ditanya, ia selalu bilang “Saya yakin proses hukum yang ada di negara kita ini terus berjalan dengan baik,” 
Kasus “Lampu Jalan (LJ) bak hantu gentayangan, bagaimana tidak, media secara speak firmly mesinyalir kasus LJ di Kab Maros, dengan banyak sorotan semisal : pengusutan kasus korupsi LJ dinilai lambat, kerugian negara yang terjadi sebesar Rp8 57.291.378, KPK bersama Ketua PEKAN 21 membawa sejumlah dokumen sebagai alat bukti untuk membongkar kasus tersebut, sementara Staf Badan Pekerja Anti Corruption Coummittee (ACC) Wiwin Suwandi juga mengatakan, penangguhan penahanan dalam Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) memang menjadi subjektivitas penyidik, dan korupsi ini merupakan kejahatan luar biasa, penahanan semestinya tidak bisa ditangguhkan, juga Penyidik yang dipimpin Kompol Mas’ud (periode lalu) dengan gugatan yang kemudian dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Maros, AKP Jufri Nasir, PUN seperti (tak hendak) menyelesai kasus tersebut. 
Aku mengajak kader (kader dengan pengertian indevendent) untuk bilang, “bangsat…!, seperti setan saja ini kasus ..!”. Hari ini kata demikian dianggap “makian “ ucapan tidak sopan, padahal interesting bahasa dalam memperkenalkan makian/caci maki dilisent sebagai ekspresi lingua yang polos bahkan dianggap tulus, ketika makian wajib dianggap berkonotasi kurang baik, maka keberadaannya dianggap menghilangkan kebebasan percakapan, semisal kemerdekaan berbicara mengHILANGkan satu privasi ekspresi lisan yang dimiliki tiap orang. 
Mengerang (pula) caci maki yang pernah dilontarkan presiden ketika suasana sedang genting pra-perpu ormas, persiden bilang “gebuk saja…”, kadang di tambahkan “gebuk, tendang ketika membangkang..!”, analogi demikian surprise bukan…?. Keberagaman masalah hingga tingkat elit politik dan kausalitas kestabilan dan keamanan masyarakat, merujukkan kita untuk mencari perlindungan intelektual di kampus tempat logika berfikir ditempa, dengan alam kritikus menegas habitat keilmuan, namun tak terbatasi oleh rezim kini. Sebuah keadaan yang “lebih sulit”, tampaknya adik-adik mahasiswa kita tak dibangun dengan analogi dan logika nalar yang baik di ruang tempaan mereka.
Tak seperti Chairil di era itu, ia membangunkan orang tidur dengan teriaknya ,“Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, terasa sebuah pikiran bebas ….., kemerdekaan berfikir, berekspresi_namun Individualis seperti Chairil di era ke-kini-an sering disalah-mengerti, keadaan yang dianggap sebagai suara individu, makna yang mungkin rezim ini ikut me-persempitnya, dan dengan persfektif dianggap hanya untuk “kepentingan individu”. Wacana LJ dalam analogi perspektif bahasa, dianggap tak mengapa berkata “Bangsatlah yang melindungi pelaku, demikian bungkam untuk memaki …”
______
reaksipress.com_ Penulis : Kaimuddin Mbck
TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS