“Ujungnya anu harus dipenggal, tampak setiap anak punya ekspresi yang berbeda saat diajak masuk ke ranjang bedah. Hal ihwal :Sunatan Massal, memberi penanda bahwa setelah prosesi ini, anak-anak kita telah  hijrah untuk lebih mengetahui baik-buruk kehidupan dan meresapkan nilai spiritual.
PWRI DPC Maros, Ormas OI Maros, LSM Kipfa Ri dan LSM KIPFA-RI Maros dan Komunitas Badik Celebes SULSEL, masing merekomended peserta dengan jumlah hanya 30 anak tidak mampu, namun  membludaknya peserta juga membuat panitia mendirikan tenda di halaman depan warkop Citta Marola.  Tanggap Bapak Abdul Malik,”dari peserta kita yang kini berjumlah 50 orang,  4 diantaranya merupakan anak yatim piatu”, beliau ang.  LSM KIPFA-RI MAROS. 
Di kesempatan ini peserta sunatan membawa pulang hadiah sarung,  uang santunan, dan paket-paket lain, di sudut halaman warung  tampak pula serombongan bapak- ibu melakukan cek kesehatan yang juga di tengarai PPNI Maros sebagai media partner dalam kegiatan ini. Aksentuasi “Sunnatan Massal”, dibuka dengan Dzikir Barzanji, tabuhan gendang adat lalu dilanjutkan dengan ceramah Islami terkait pentingnya Khitanan bagi muslim yang diantarkan oleh Drs Udztas H. Yabu dari Butta Toa Maros, di ujung ceramahnya memandu me-sahadatkan peserta sunatan yang tampaknya rata-rata mereka siswa sekolahan dasar, nuansa budaya sangat terasa dengan aksi tabuhan gendang adat  yang dikelilingi Komunitas Badik celebes yang lengkap berkostum baju adat SulSel.
Para peserta terlihat antusias dan bersemangat untuk disunat, yang sebelumnya mereka melakukan wudhu lalu membaca doa, di deretan kursi tampak tangisan anak-anak sedikit memecah, bersamaan, para orang tua juga sibuk merayu anak-anaknya agar berani menjalani operasi kecil tersebut, namun seorang anak mengguna mic peserta termuda (7 tahun) dengan polosnya mengguna bahasa ibu, katanya ” tidak sakit ji kurasa”, kata Ammar, meski terdapat ekspresi lain, yaitu  ketika seorang anak menangis di pelukan ibunya.
Deskriptif khitan dalam kausalitas budaya disampaikan Ketua DPC PWRI MAROS Makmur Radika  “perihal ini merupakan kewajiban bagi muslim, kegiatan yang diharapkan membantu masyarakat tidak mampu, kegiatan yang yang disebut dengan “massunna” (bahasa Bugis)”assunna” (Bhs Makassar), sedang prosesi ini disebut “appasunna” atau sering disebut juga mappaselleng (pengislaman) “.
Kegiatan dengan tema yang dirembukkan bersama yaitu “Berbagi Dalam Kewajiban, Hangat Sambut Dalam Budaya”, ditanggapi oleh Danasq Rani dengan ulasan, ” hal ini merupakan upaya melestarikan perayaan kewajiban khitan Islam dan dikooptasi dengan bingkai budaya”, beliau merupakan Pembina Badik Celebes Maros.
KETUM DPP PWRI, Bapak Suriyanto PD, yang dinanti menyaksi acara ini, gemes sebab terkendala/ tak bisa mengapresiasi, hanya menyampaikan lewat twett-nya, “maaf dinda tibatiba ada yang mendesak, semoga kegiatan kita mendapat ridha dan bernilai pahala dari Allah SWT, amin..”_
Media Berita Reaksi Press_Ditulis Kaimuddin, Mbck.
TULIS TANGGAPAN ANDA PADA KOLOM DI BAWAH INI, TERKAIT DENGAN BERITA DI ATAS
Ads
Pasang Iklan ReaksiPRESS